Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga Dalam Menghadapi Prospek Perekonomian 2026

Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga Dalam Menghadapi Prospek Perekonomian 2026

Reporter: OJK | Editor: Ulun Nazmi
Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga Dalam Menghadapi Prospek Perekonomian 2026
Rapat Dewan Komisioner OJK || (Ist)

KABAR18.COM —  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global. Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 24 Desember 2025.

Dalam rapat tersebut, OJK mencermati perkembangan ekonomi global yang secara umum menunjukkan perbaikan. Meski demikian, kinerja ekonomi Tiongkok masih berada di bawah ekspektasi. Aktivitas manufaktur global tercatat masih berada di zona ekspansi, namun lajunya mulai melambat seiring penurunan kepercayaan konsumen dunia.

Baca Juga: OJK Fokus Penguatan Pengawasan dan Penyelesaian Kasus di IKNB

Untuk tahun 2026, sejumlah lembaga multilateral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melandai dan berada di bawah rata-rata sebelum pandemi. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya risiko fiskal di beberapa negara utama.

Di Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan kinerja yang solid. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh sebesar 4,3 persen (saar), lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, penurunan impor, serta peningkatan investasi di sektor kecerdasan buatan.

Baca Juga: OJK Dorong Pengembangan UMKM sebagai Pertumbuhan Ekonomi Baru Daerah

Namun demikian, pasar tenaga kerja Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda moderasi. Inflasi pada November 2025 tercatat menurun menjadi 2,7 persen, sementara inflasi inti turun menjadi 2,6 persen dari sebelumnya 3,0 persen pada Oktober 2025.

Berbeda dengan Amerika Serikat, perekonomian Tiongkok masih mengalami perlambatan. Konsumsi rumah tangga tertahan, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur kembali ke zona kontraksi, serta tekanan di sektor properti masih berlanjut.

Baca Juga: Dian Ediana Rae Ditetapkan sebagai Anggota Dewan Komisioner Lps Ex-Officio OJK

Kondisi global tersebut mendorong sejumlah bank sentral mengambil kebijakan yang berbeda. Federal Reserve memangkas Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada Desember 2025. Bank of England juga menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen, yang merupakan pemangkasan keempat sepanjang tahun.

Sebaliknya, Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir akibat tekanan inflasi yang masih bertahan. Perbedaan arah kebijakan moneter ini memengaruhi dinamika pasar keuangan global.

Pasar saham dunia cenderung menguat seiring penghentian kenaikan FFR, meski muncul kekhawatiran potensi gelembung (bubble) di saham teknologi. Sementara itu, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar obligasi global akibat berakhirnya praktik carry trade.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik serta pasar keuangan global pada awal tahun 2026.

Di tengah dinamika global tersebut, perekonomian Indonesia pada Desember 2025 mencatat peningkatan inflasi inti. Sektor manufaktur tetap berada pada fase ekspansif, sementara kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus.

OJK menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan ketahanan sektor jasa keuangan nasional tetap kuat dalam menghadapi tantangan global, sekaligus menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia pada tahun 2026.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Kabar Lainnya

Kabar Lainnya