AI Bantu Temukan Celah PHP2SHELL di Situs Berbasis PHP
OpenAI dan Google membantu mengungkap serta menguji celah PHP2SHELL yang memungkinkan eksekusi kode dan kebocoran memori sensitif pada server PHP.
Oleh Kevin Mikael Januar
· 2 menit baca
Jakarta — OpenAI dan Google membantu menemukan, menilai, menguji, serta memverifikasi perbaikan celah keamanan PHP2SHELL yang berdampak pada banyak situs berbasis PHP pada 22 Oktober 2026.
Kerentanan tersebut memungkinkan penyerang menjalankan kode berbahaya pada server terdampak dan mengakses memori yang dapat memuat data sensitif, termasuk kata sandi. Tim yang terlibat berasal dari OpenAI, Wiz—perusahaan keamanan siber milik Google—dan Calif.
Calif menemukan salah satu celah menggunakan GPT-5.6 Sol dalam program Patch the Planet. OpenAI juga menyebut kolaborasi berlangsung selama dua bulan dengan pengelola PHP, peneliti keamanan, dan perusahaan keamanan siber.
Laporan Google menyebut unit keamanan sibernya, Wiz, menggunakan model AI untuk menemukan dan menyelidiki kerentanan. Gemini AI membantu menilai kerentanan, menguji potensi serangan, dan memverifikasi perbaikan. PHP kemudian merilis perbaikan sebelum pengungkapan publik sesuai jadwal awal.
Kerentanan PHP menuntut pembaruan sistem
PHP2SHELL merupakan nama untuk dua celah kritis. Celah itu memungkinkan eksekusi kode jarak jauh tanpa autentikasi serta pengungkapan memori sensitif.
PHP Foundation telah merilis patch dan mendesak operator situs memperbarui sistem. Informasi kerentanan bocor pada 20 Oktober 2026, sedangkan tim pengembang PHP merilis perbaikan pada 21 Oktober 2026. Rilis yang diperbaiki mencakup PHP 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, dan 8.2.35.
Bagi pengelola situs di Indonesia, celah ini relevan karena PHP digunakan pada banyak layanan web. Pembaruan versi dan pemeriksaan server menjadi langkah yang disebut dalam laporan-laporan tersebut untuk mengurangi risiko eksekusi kode serta kebocoran data.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Teknologi
Cisco: 40 Persen Organisasi Indonesia Belum Ekstensif Pakai Agen AI
Riset Cisco mencatat 40 persen organisasi di Indonesia belum memakai agen AI secara ekstensif untuk keamanan siber. Skor pertahanan siber rata-rata me…
Terbaru di Teknologi

Berita utama hari ini

Baca juga





