Akademisi Unhas Ingatkan Hilirisasi Nikel Tak Wariskan Utang Lingkungan
Akademisi Universitas Hasanuddin menyoroti jejak lingkungan penambangan dan pengolahan nikel serta pentingnya kajian ilmiah agar hilirisasi tidak membebani generasi berikutnya.
Oleh Pandi Muktar
· 2 menit baca
Makassar — Akademisi Universitas Hasanuddin, Ilham Alimuddin, mengingatkan agar pengembangan industri nikel tidak mengubah kekayaan lingkungan menjadi beban bagi generasi berikutnya dalam seminar di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 13 Oktober 2026.
Mengapa ini penting: Pembaca mendapat informasi tentang dampak lingkungan yang perlu dikaji dalam penambangan dan pengolahan nikel, terutama di wilayah aktivitas industri seperti Sulawesi Selatan.
Seminar bertajuk “Nickel Boom: Who Gets Rich, Who Pays the Price?” itu diselenggarakan Academia Politica oleh Yayasan Partisipasi Muda. Kegiatan tersebut membahas tata kelola industri nikel, dampak lingkungan, pembagian manfaat ekonomi, dan keterlibatan generasi muda dalam kebijakan.
Jejak lingkungan
Menurut Ilham, nikel dibutuhkan untuk produksi baterai dan mendukung mobilitas rendah karbon. Namun, penambangan dan pengolahan nikel dapat meninggalkan jejak lingkungan, antara lain perubahan fungsi hidrologi dan emisi di sepanjang rantai nilai.
Ia mengatakan tantangan hilirisasi bukan memilih antara pengembangan industri nikel dan perlindungan lingkungan. Persoalannya ialah memastikan kekayaan sumber daya alam memberi manfaat bagi masyarakat tanpa menimbulkan beban ekologis berkepanjangan.
“Indonesia tidak harus memilih antara nikel dan lingkungan. Tantangannya adalah mengubah kekayaan geologi menjadi kesejahteraan tanpa mengubah kekayaan lingkungan menjadi utang lingkungan,” ujar Ilham, seperti dikutip Tribunnews.
Peran kajian ilmiah
Perwakilan pemerintah yang hadir dalam seminar itu menyebut Indonesia menguasai sekitar 60 persen nikel dunia. Sulawesi Selatan disebut menyumbang sekitar 15 persen, dengan pusat aktivitas di Luwu Timur dan Bantaeng, menurut Viva.
Seminar juga menyoroti dugaan pencemaran dan keluhan petani rumput laut di sekitar smelter Bantaeng. Persoalan tersebut dinilai perlu diuji melalui pendekatan ilmiah agar dampak industri terhadap lingkungan dan masyarakat dapat dinilai secara objektif.
Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin dan Yayasan Partisipasi Muda mendorong keterlibatan akademisi, masyarakat sipil, pemerintah, dan generasi muda dalam membahas tata kelola industri nikel.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Daerah
BMKG Peringatkan Udara Panas hingga 45 Derajat Celsius di Sulawesi Selatan
BMKG Wilayah IV Makassar menerbitkan peringatan dini Sulawesi Selatan pada 10–12 Oktober 2026. Udara terasa panas berambang 35–45 derajat Celsius dan…
Terbaru di Lingkungan

Berita utama hari ini

Baca juga





