Kabar18.com

Senin, 5 Oktober 2026

Analis Proyeksikan IHSG 6.300–6.600 pada Akhir 2026

Analis memproyeksikan IHSG akhir 2026 di 6.300–6.600 jika tekanan pasar mereda. Risiko koreksi ke 5.800–6.000 muncul bila rupiah, yield Amerika Serikat, minyak, dan aksi jual asing memburuk.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tampilan grafik pergerakan harga saham dengan pola lilin merah hijau pada latar gelap.
Ilustrasi: Tampilan grafik pergerakan harga saham dengan pola lilin merah hijau pada latar gelap. · Foto: Rafael Minguet Delgado / Pexels

Jakarta — Analis memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir 2026 berada di rentang 6.300–6.600 dalam skenario stabil, tetapi berisiko menguji 5.800–6.000 jika tekanan pasar meningkat, berdasarkan laporan pada 2–4 Oktober 2026.

Perkiraan tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor yang membayangi pasar saham Indonesia, yakni tekanan terhadap rupiah, tingginya imbal hasil US Treasury, kenaikan harga minyak, dan aksi jual bersih investor asing. Kontan menyebut ruang penguatan IHSG terbuka apabila rupiah stabil, penjualan bersih asing mengecil, kinerja emiten kuartal III 2026 solid, dan sentimen global membaik.

Dalam skenario sebaliknya, indeks dapat kembali tertekan apabila rupiah menembus dan bertahan di atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, imbal hasil obligasi Amerika Serikat tetap tinggi, harga minyak meningkat, dan aksi jual asing berlanjut. Laporan Pasardana mencatat investor asing membukukan jual bersih Rp240,43 miliar di pasar reguler pada 2 Oktober 2026, dengan akumulasi sejak awal tahun Rp107,42 triliun.

Proyeksi IHSG menentukan ruang gerak investor Indonesia

Rentang tersebut penting bagi pembaca karena menghubungkan kondisi pasar global dengan risiko aset domestik. Laporan Kontan menyebut pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil US Treasury, dan harga minyak menjadi faktor yang dapat meningkatkan tekanan terhadap saham Indonesia.

Data perdagangan pada 2 Oktober 2026 menunjukkan tekanan belum sepenuhnya reda. Pasardana melaporkan rupiah melemah ke kisaran Rp17.960 per dolar Amerika Serikat, sementara aksi jual asing tetap menjadi perhatian. Kontan juga melaporkan bahwa pada 1 Oktober investor asing mencatat net sell sekitar Rp240,4 miliar di pasar reguler dan akumulasi net sell sepanjang 2026 sekitar Rp107,4 triliun.

Menurut laporan Kontan, skenario 6.300–6.600 mensyaratkan tekanan rupiah mereda, net sell asing mengecil, dan kinerja emiten kuartal III 2026 cukup solid. Sebaliknya, rentang 5.800–6.000 mencerminkan risiko apabila tekanan pasar meningkat.

Perkembangan berikutnya bergantung pada stabilitas rupiah, arah imbal hasil US Treasury, harga minyak, arus dana asing, serta laporan keuangan emiten kuartal III 2026, sebagaimana disebut dalam laporan-laporan tersebut.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.