Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga di Tengah Tekanan Pasar Global
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 5,75 persen saat ketidakpastian pasar global tinggi. Rupiah dan IHSG sempat menguat pada 23 September setelah tekanan pasar domestik sehari sebelumnya.
Oleh Pandi Muktar
· 2 menit baca
Indonesia dan Amerika Serikat — Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75 persen dalam rapat pada 22-23 September 2026. Keputusan itu diambil ketika ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi dan kebijakan moneter Amerika Serikat mengetat.
Mengapa ini penting: BI-Rate tetap 5,75 persen, sementara rupiah berada di Rp17.855 per dolar Amerika Serikat pada 22 September dan IHSG menguat 0,33 persen saat pembukaan 23 September.
Menurut Bank Indonesia, Federal Funds Rate berada pada kisaran 3,75-4,00 persen pada September 2026. Bank sentral juga mencatat nilai tukar rupiah pada 22 September berada di level Rp17.855 per dolar Amerika Serikat, melemah 0,78 persen dibandingkan posisi akhir Agustus.
Pasar saham dan rupiah
Indeks Harga Saham Gabungan menguat pada pembukaan perdagangan 23 September 2026. Tirto melaporkan IHSG naik 20,91 poin atau 0,33 persen ke level 6.297,95, sedangkan rupiah menguat ke sekitar Rp17.857 per dolar Amerika Serikat.
Pergerakan itu terjadi sehari setelah tekanan di pasar domestik. CNBC Indonesia melaporkan IHSG pada 22 September ditutup turun 107,68 poin atau 1,69 persen ke level 6.277,04. Rupiah pada hari yang sama berakhir di Rp17.850 per dolar Amerika Serikat, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara bertenor 10 tahun berada di 7,120 persen.
Bank Indonesia menyatakan prospek perekonomian global belum kuat. Bank sentral juga menilai kenaikan suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat dan kemungkinan kenaikan lanjutan dapat memengaruhi kondisi pasar keuangan.
Keputusan Bank Indonesia
Selain mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, Bank Indonesia menjaga suku bunga Deposit Facility pada 4,75 persen dan Lending Facility pada 6,50 persen. Keputusan tersebut berlaku setelah rapat dewan gubernur yang berlangsung pada 22-23 September.
Perkembangan pasar tetap dipengaruhi oleh pergerakan dolar Amerika Serikat, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, dan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral global. Data Bank Indonesia menunjukkan rupiah masih berada di bawah tekanan dibandingkan akhir Agustus, meski menguat pada pembukaan perdagangan 23 September.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Analisis
Mengapa Inflasi Tidak Berarti Semua Harga Menjadi Lebih Murah?
Inflasi 2,92 persen pada 2025 masih berada dalam sasaran. Memahami beda antara perlambatan inflasi dan penurunan harga membantu membaca biaya hidup se…
Terbaru di Ekonomi & Keuangan

Berita utama hari ini

Baca juga





