Kabar18.com

Jumat, 2 Oktober 2026

BI Catat Rupiah Terdepresiasi 7,74 Persen hingga 29 September 2026

Bank Indonesia mencatat rupiah terdepresiasi 7,74 persen hingga 29 September 2026 dan mempertahankan suku bunga 5,75 persen sambil memperketat pembelian valas individu tanpa underlying.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Seseorang tampak dari belakang di depan loket penukaran uang bertuliskan Money Change.
Ilustrasi: Seseorang tampak dari belakang di depan loket penukaran uang bertuliskan Money Change. · Foto: Mathias Reding / Pexels

Jakarta — Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75 persen dan memperkuat sejumlah instrumen valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah pada 30 September 2026. Pada tanggal yang sama, BI mencatat rupiah terdepresiasi 7,74 persen sejak awal tahun hingga 29 September 2026.

Mengapa ini penting: Batas pembelian valas individu tanpa underlying kini menjadi US$10.000 per orang per bulan, sementara BI-Rate dipertahankan pada 5,75 persen.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea menyampaikan data itu dalam taklimat media di Jakarta. Strategi BI mencakup intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan non-deliverable forward (NDF), serta penguatan insentif lindung nilai.

Batas pembelian valas dipersempit

Menurut Liputan6, BI memperketat batas pembelian valuta asing individu tanpa underlying, yakni dokumen atau dasar kegiatan ekonomi yang mendasari transaksi. Batas tersebut diturunkan bertahap dari US$100.000 menjadi US$50.000, lalu US$25.000, dan kini US$10.000 per orang per bulan.

BI juga menaikkan insentif swap menjadi 15 persen untuk tenor tiga bulan, 20 persen untuk enam bulan, dan 25 persen untuk 12 bulan. Insentif DNDF ditetapkan 25 persen untuk tenor enam bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan.

Warta Ekonomi melaporkan BI mempertahankan BI-Rate 5,75 persen pada September setelah menaikkannya secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei 2026. BI menilai langkah kenaikan tersebut telah memadai sehingga stabilisasi berikutnya ditempuh melalui instrumen pasar valuta asing dan operasi moneter.

Tekanan pasar pada 28 September

Pada 28 September 2026, IHSG ditutup turun 1,51 persen atau sekitar 94 poin ke level 6.147,86. Data yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan rupiah melemah 0,53 persen ke Rp17.965 per dolar Amerika Serikat.

Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun naik menjadi 7,196 persen dari 7,083 persen. Bareksa mengaitkan tekanan pasar itu dengan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, harga minyak Brent di atas US$106 per barel, serta kekhawatiran terhadap inflasi.

Dalam perkembangan pada 30 September, Metro TV melaporkan nilai tukar rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate berada di level Rp17.877 per dolar AS. BI menyatakan instrumen kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, kecukupan likuiditas, dan stabilitas suku bunga.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi & Keuangan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.