Kabar18.com

Jumat, 2 Oktober 2026

CISDI Sebut 9 dari 10 Pangan Kemasan di Surabaya Tak Sehat

CISDI dan CHeNECE FKM Universitas Airlangga menyampaikan temuan studi pangan kemasan dalam edukasi di Surabaya. Analisis mencakup 8.077 produk dari empat kota.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Sendok kayu berisi garam atau gula putih di atas permukaan batu hitam.
Ilustrasi: Sendok kayu berisi garam atau gula putih di atas permukaan batu hitam. · Foto: Marek Kupiec / Pexels

Surabaya — Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga menyebut sembilan dari sepuluh produk pangan kemasan di Indonesia tergolong tidak sehat berdasarkan standar profil gizi internasional dalam kegiatan edukasi pada 1 Oktober 2026.

Temuan tersebut disampaikan dalam rangkaian CISDI Goes to Campus yang membahas informasi gizi dan lingkungan pangan. Studi kolaboratif CISDI dan CHeNECE menganalisis 8.077 produk makanan dan minuman kemasan yang dikumpulkan dari delapan supermarket dan minimarket di Jakarta, Surabaya, Medan, serta Makassar.

Penilaian menggunakan Model Profil Gizi atau Nutrient Profile Models (NPM) berbasis standar internasional. Produk dinilai berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak, termasuk penggunaan pemanis non-gula yang berisiko bila dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang.

Mengapa temuan pangan kemasan penting bagi pembaca

Informasi tersebut membantu pembaca memahami bahwa label dan komposisi pangan kemasan perlu diperhatikan sebelum membeli atau mengonsumsinya. Hasil studi menunjukkan perbedaan antara model profil gizi berbasis praktik terbaik internasional dan rancangan ambang batas Nutri-Level yang dikembangkan di Indonesia.

Menurut hasil yang dipublikasikan CISDI, model WHO SEARO mengidentifikasi 90,1 persen produk yang perlu dibatasi konsumsinya untuk sedikitnya satu zat gizi yang menjadi perhatian. Model PAHO mengidentifikasi 90,7 persen produk, sedangkan model praktik terbaik menghasilkan proporsi 94,6 persen.

Studi yang diberitakan FKM Universitas Airlangga menyebut sekitar 90–95 persen produk pangan kemasan dikategorikan tidak sehat berdasarkan model profil gizi berbasis bukti. Sebagai pembanding, ambang batas Nutri-Level yang diusulkan di Indonesia mengklasifikasikan 72,9 persen produk ke dalam kategori D.

Kegiatan edukasi di Surabaya juga menempatkan pola makan instan, informasi gizi, dan lingkungan pangan sebagai bagian dari pembahasan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Kesehatan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.