El Niño Tekan Ekonomi Indonesia dan Perlebar Ketimpangan
Analisis Bloomberg Technoz memperkirakan dampak El Niño menimbulkan kerugian lebih dari Rp120 triliun dan menilai pertumbuhan ekonomi di atas 5% belum merata.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Jakarta — Analisis ekonomi Bloomberg Technoz pada 10 Oktober 2026 menyebut dampak El Niño di Indonesia diperkirakan menimbulkan kerugian lebih dari Rp120 triliun dan memperlebar tekanan terhadap perekonomian nasional.
Laporan itu menyatakan kebakaran hutan dan lahan semakin sulit diatasi karena kemarau. Kekeringan juga berdampak pada kelangsungan industri dan meningkatkan risiko gagal panen, selain menambah biaya kesehatan yang ditanggung masyarakat.
Dampak El Niño diperkirakan berlangsung hingga Maret 2027. Kondisi tersebut menambah beban ekonomi domestik yang sudah menghadapi krisis harga energi akibat guncangan geopolitik serta instabilitas ekonomi global dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Analisis yang sama menyoroti pembagian manfaat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum merata. Pertumbuhan di atas 5% disebut hanya dinikmati sebagian masyarakat, dengan kelompok terkaya menjadi pihak yang paling menikmati pertumbuhan kesejahteraan, sedangkan kelompok menengah menghadapi tekanan paling berat.
El Niño dan pertumbuhan tidak merata menekan rumah tangga
Tekanan tersebut relevan bagi pembaca karena dampaknya menyentuh pangan, pekerjaan, pendapatan, biaya kesehatan, dan kegiatan industri. Risiko gagal panen dapat mengganggu pasokan, sementara gangguan kebakaran hutan dan kekeringan meningkatkan beban sosial serta ekonomi.
Laporan Liputan6.com pada 2 Oktober 2026 turut menyebut El Niño berpotensi mengganggu produksi, distribusi, ekspor, dan neraca perdagangan Indonesia. Gangguan sungai dapat menghambat pengangkutan batu bara dan minyak sawit mentah, sedangkan pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap berpotensi terganggu.
Bank Indonesia menyiapkan pengendalian inflasi untuk mengantisipasi tekanan harga pangan hingga akhir 2026. Bank sentral memberi perhatian pada beras, cabai, dan bawang merah karena komoditas tersebut rentan terdampak gangguan produksi.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Teknologi
Bitdefender Gandeng PT GIA Bawa Deteksi Deepfake ke Indonesia
Bitdefender dan PT Gema Informatika Abadi menjalin distribusi eksklusif di Indonesia. Portofolionya mencakup anti-scam, perlindungan identitas, privas…
Terbaru di Analisis

Baca juga




