Kabar18.com

Minggu, 11 Oktober 2026

El Niño Tekan Ekonomi Indonesia dan Perlebar Ketimpangan

Analisis Bloomberg Technoz memperkirakan dampak El Niño menimbulkan kerugian lebih dari Rp120 triliun dan menilai pertumbuhan ekonomi di atas 5% belum merata.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Permukaan tanah yang kering dan pecah-pecah akibat kekeringan.
Ilustrasi: Permukaan tanah yang kering dan pecah-pecah akibat kekeringan. · Foto: Davide Negro / Pexels

Jakarta — Analisis ekonomi Bloomberg Technoz pada 10 Oktober 2026 menyebut dampak El Niño di Indonesia diperkirakan menimbulkan kerugian lebih dari Rp120 triliun dan memperlebar tekanan terhadap perekonomian nasional.

Laporan itu menyatakan kebakaran hutan dan lahan semakin sulit diatasi karena kemarau. Kekeringan juga berdampak pada kelangsungan industri dan meningkatkan risiko gagal panen, selain menambah biaya kesehatan yang ditanggung masyarakat.

Dampak El Niño diperkirakan berlangsung hingga Maret 2027. Kondisi tersebut menambah beban ekonomi domestik yang sudah menghadapi krisis harga energi akibat guncangan geopolitik serta instabilitas ekonomi global dalam lingkungan suku bunga tinggi.

Analisis yang sama menyoroti pembagian manfaat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum merata. Pertumbuhan di atas 5% disebut hanya dinikmati sebagian masyarakat, dengan kelompok terkaya menjadi pihak yang paling menikmati pertumbuhan kesejahteraan, sedangkan kelompok menengah menghadapi tekanan paling berat.

El Niño dan pertumbuhan tidak merata menekan rumah tangga

Tekanan tersebut relevan bagi pembaca karena dampaknya menyentuh pangan, pekerjaan, pendapatan, biaya kesehatan, dan kegiatan industri. Risiko gagal panen dapat mengganggu pasokan, sementara gangguan kebakaran hutan dan kekeringan meningkatkan beban sosial serta ekonomi.

Laporan Liputan6.com pada 2 Oktober 2026 turut menyebut El Niño berpotensi mengganggu produksi, distribusi, ekspor, dan neraca perdagangan Indonesia. Gangguan sungai dapat menghambat pengangkutan batu bara dan minyak sawit mentah, sedangkan pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap berpotensi terganggu.

Bank Indonesia menyiapkan pengendalian inflasi untuk mengantisipasi tekanan harga pangan hingga akhir 2026. Bank sentral memberi perhatian pada beras, cabai, dan bawang merah karena komoditas tersebut rentan terdampak gangguan produksi.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.