Insentif BI Rp118 Triliun Dukung 115.600 Rumah di Indonesia
Bank Indonesia menyebut insentif likuiditas Rp118 triliun mengalir ke sektor perumahan, termasuk sekitar Rp68 triliun yang mendukung pembangunan hingga 115.600 unit rumah.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Jakarta — Bank Indonesia menyalurkan insentif likuiditas senilai Rp118 triliun pada Juni hingga Juli 2026, dengan sekitar Rp68 triliun mengalir ke sektor perumahan di Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan penyaluran tersebut mendukung pembangunan hingga 115.600 unit rumah. Pembiayaan itu berkaitan dengan program pemerintah dan disebut berpotensi menggerakkan lapangan kerja serta rantai pasok sektor perumahan.
Insentif tersebut berasal dari Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), yaitu kebijakan yang memberi ruang likuiditas tambahan kepada bank untuk menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Mekanismenya terkait dengan pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank yang memenuhi kriteria penyaluran pembiayaan.
Insentif BI memperluas pembiayaan perumahan
Sektor perumahan menjadi salah satu sasaran kebijakan karena pembiayaan rumah melibatkan perbankan, pengembang, pekerja konstruksi, serta rantai pasok bahan bangunan. Data yang disampaikan Bank Indonesia menunjukkan sekitar Rp68 triliun dari insentif tersebut masuk ke pembiayaan perumahan dan mendukung pembangunan hingga 115.600 unit rumah.
Angka Rp118 triliun merujuk pada nilai insentif likuiditas yang disalurkan, sedangkan sekitar Rp68 triliun merupakan bagian yang mengalir ke sektor perumahan. Perbedaan ini penting agar nilai insentif tidak disamakan dengan nilai kredit baru untuk rumah.
Kebijakan KLM juga diarahkan untuk mendorong bank menyalurkan pembiayaan ke sektor prioritas. Untuk sektor perumahan, real estat, dan konstruksi, pengurangan kewajiban Giro Wajib Minimum berada pada kisaran 1,25% hingga 1,5%.
Dampak kebijakan tersebut tidak hanya terkait jumlah rumah yang dibangun. Pembangunan perumahan juga mencakup pekerjaan konstruksi dan kebutuhan material, sehingga penyaluran pembiayaan dapat berhubungan dengan aktivitas usaha di sepanjang rantai pasok.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
Rupiah Tertekan di Sekitar Rp17.900 meski Surplus Perdagangan
JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.910 per dolar AS pada 6 Oktober 2026. Neraca perdagangan Januari–Agustus surplus US$7,25 miliar, tetapi impor tumb…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga





