Islamic Center Jambi : Harapan yang Terabaikan dan Simbol Kegagalan Besar yang Hanya Membuang-Buang Dana Publik
Islamic Center Jambi : Harapan yang Terabaikan dan Perencanaan yang Buruk serta Eksekusi yang Terburu-Buru.
· 5 menit baca
Catatan : Martayadi Tajuddin (Alumni Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung dan Pengajar Prodi Arsitektur Universitas Adiwangsa Jambi)
Proyek besar pembangunan Islamic Centre Jambi, yang seharusnya menjadi kebanggaan umat Islam dan masyarakat Provinsi Jambi, justru menghadirkan beragam masalah yang tidak hanya merugikan tetapi juga mengkhianati harapan yang telah diletakkan pada proyek ini. Meskipun anggaran sebesar Rp 125 miliar telah dikeluarkan dari APBD Provinsi Jambi melalui skema multiyear, kenyataannya, pembangunan ini dipastikan tidak akan selesai tepat waktu sesuai kontrak yang berakhir pada Desember 2024. Selain itu masih diperlukan anggaran tambahan yang cukup besar untuk fungsional dan kemanfaatan banguan tersebut yang jelas-jelas mengangkangi nota kesepakatan sebelumnya.
Ini adalah gambaran jelas dari kegagalan mereka dalam merencanakan dan mengelola proyek yang sangat penting bagi umat ini.
Lebih dari sekadar masalah teknis dan kualitas bangunan, pembangunan Islamic Centre ini menunjukkan ketidakmampuan pengelolaan anggaran dan sumber daya yang berdampak langsung pada masyarakat. Dalam konteks ini, proyek yang seharusnya menjadi pusat kebangkitan umat Islam, sekaligus penggerak ekonomi dan sosial bagi masyarakat, malah terancam menjadi simbol kegagalan besar yang hanya membuang-buang dana publik.
Banyak hal yang kurang mendapat perhatian dan terabaikan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Islamic Centre terutama prinsip dasar perencanaan pembangunan Islamic Centre yang akan menimbulkan multi persoalan dikemudian hari, antara lain :
1. Tujuan dan Fungsi yang Terabaikan
Islamic Centre Jambi dibangun dengan harapan menjadi pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan ekonomi bagi umat Islam. Namun, dengan perencanaan yang buruk dan eksekusi yang terburu-buru, tujuan utama dari proyek ini menjadi kabur. Fasilitas-fasilitas esensial seperti pusat pendidikan, ruang ekonomi umat, dan area sosial seharusnya menjadi prioritas utama, namun justru terabaikan. Sebaliknya, apa yang ada malah lebih terlihat sebagai proyek yang terfokus pada tampilan luar dan cepat selesai tanpa memikirkan keberlanjutan dan fungsionalitas jangka panjang.
2. Keterhubungan dengan Masyarakat yang Terlewatkan.
Proyek ini seharusnya menjadi bagian integral dari masyarakat di sekitar. Namun, minimnya perhatian terhadap komunitas lokal menunjukkan bahwa proyek ini lebih mengutamakan ambisi dan gengsi ketimbang memenuhi kebutuhan nyata umat.
Jika sebuah Islamic Centre tidak memberikan manfaat langsung melalui kegiatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi lokal, maka kita harus bertanya, untuk siapa sebenarnya proyek ini dibangun?
3. Nilai-Nilai Islam dalam Arsitektur yang Terabaikan
Salah satu tujuan utama dari pembangunan Islamic Centre adalah menciptakan tempat yang mampu mengakomodasi kegiatan ibadah dan pembelajaran dengan suasana yang penuh kedamaian.
Namun, desain arsitektur yang terburu-buru dan terkesan asal-asalan mengabaikan elemen-elemen penting yang dapat mendukung atmosfer spiritual yang damai. Ini jelas merusak esensi dari sebuah pusat Islam yang ideal, yang seharusnya mengutamakan nilai-nilai kedamaian, ketenangan, dan keteguhan iman.
4. Pengelolaan Sumber Daya yang Tidak Efisien
Penggunaan sumber daya yang tidak efisien, baik dari material bangunan yang kurang berkualitas hingga ketidakterapan prinsip ramah lingkungan dan konsep bangunan hijau, menjadi bukti betapa buruknya pengelolaan proyek ini.
Dari panel surya yang tidak dimanfaatkan hingga sistem pengolahan air hujan yang kurang optimal, semua ini mengarah pada pemborosan yang berisiko meningkatkan biaya operasional jangka panjang dan menggerogoti anggaran masyarakat.
Pembangunan seperti ini jelas merugikan umat, karena mengalihkan dana yang seharusnya bisa digunakan untuk program pemberdayaan umat lainnya.
5. Ketidakberagaman Layanan dan Aktivitas
Islamic Centre yang ideal seharusnya menawarkan berbagai layanan yang tidak hanya terbatas pada kegiatan ibadah, tetapi juga pengembangan keterampilan, pendidikan agama, hingga pelayanan sosial seperti pusat kesehatan dan penyuluhan.
Namun, dengan perencanaan yang krang komprehensif, fasilitas yang ada tidak mencakup banyak kebutuhan umat. Ini mengurangi dampak positif yang seharusnya bisa diberikan kepada masyarakat, padahal pusat seperti ini bisa menjadi tempat yang sangat bermanfaat jika direncanakan dan dikelola dengan baik.
6. Aksesibilitas yang Terabaikan
Islamic Centre seharusnya menjadi tempat yang mudah diakses oleh semua kalangan. Baik dari sisi lokasi yang strategis maupun desain yang ramah disabilitas. Namun, ketidakpedulian terhadap aspek aksesibilitas ini menunjukkan bahwa perencanaan pembangunan ini tidak memperhitungkan kenyamanan dan kebutuhan umat secara keseluruhan.
Tanpa perhatian terhadap detail-detail ini, Islamic Centre hanya akan menjadi tempat yang sulit dijangkau dan tidak ramah bagi banyak kalangan, terutama yang membutuhkan akses khusus.
7. Kemandirian Ekonomi yang Tidak Terwujud
Sebuah Islamic Centre yang berhasil seharusnya tidak hanya bergantung pada dana pemerintah dan sumbangan, melainkan juga memiliki sumber daya ekonomi mandiri, seperti toko, kantin, atau lembaga keuangan syariah yang bisa mendukung operasionalnya.
Namun, kemandirian ekonomi tampaknya bukan menjadi prioritas dalam proyek ini. Tanpa upaya untuk menciptakan sumber pendapatan jangka panjang, Islamic Centre Jambi akan terus bergantung pada dana pemerintah, yang menjadikannya rentan terhadap ketidakpastian finansial di masa depan.
8. Keamanan dan Kenyamanan yang Terancam
Keamanan dan kenyamanan adalah aspek yang sangat penting bagi setiap fasilitas umum, terlebih bagi sebuah pusat keagamaan. Dengan kualitas bangunan yang diragukan dan proses pembangunan yang terburu-buru, potensi terjadinya kerusakan atau kecelakaan tentu sangat besar.
Jika kualitas bangunan tidak dijaga, maka pengunjung akan merasa tidak aman dan tidak nyaman, yang bertentangan dengan tujuan utama dari Islamic Centre itu sendiri, yaitu sebagai tempat yang mendatangkan kedamaian dan ketenangan.
Kesimpulan
Pembangunan Islamic Centre Jambi menunjukkan kurangnya perhatian terhadap prinsip dasar pembangunan yang bertujuan untuk memberdayakan umat dan masyarakat. Proyek ini lebih mementingkan ‘ambisi pengambil kebijakan’, ketimbang kualitas dan manfaat jangka panjang bagi umat Islam dan masyarakat sekitar.
Harapan yang begitu besar untuk menjadikan Islamic Centre sebagai pusat kebangkitan spiritual, sosial, dan ekonomi umat, kini hanya menjadi harapan yang terabaikan.
Kita tidak boleh membiarkan proyek sebesar ini menjadi simbol kegagalan. Keberlanjutan, kualitas, dan pemberdayaan umat harus menjadi prinsip utama dalam perencanaan dan pelaksanaan setiap proyek publik.
Jika kita ingin Islamic Centre Jambi benar-benar menjadi pusat harapan yang memberdayakan umat dan masyarakat luas, maka kita harus memperjuangkan perencanaan yang matang, pengelolaan yang efisien, serta komitmen yang tulus dari semua pihak untuk memenuhi janji yang telah dibuat.
Kita harus memastikan bahwa Islamic Centre Jambi tidak menjadi sebuah Monumen Cipta Karya (MCK) tanpa makna, tetapi sebuah pusat kekuatan umat yang bermanfaat untuk generasi-generasi mendatang. Salam……
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Terbaru di Opini

Berita utama hari ini

Baca juga





