Kabar18.com

Kamis, 8 Oktober 2026

Mengapa IHSG Tertekan Minyak dan Konflik Energi di Jakarta

IHSG turun 0,75 persen ke level 6.146,72 di Jakarta pada 7 Oktober 2026. Tekanan terjadi saat harga minyak naik dan dolar Amerika Serikat menguat terhadap mata uang Asia.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Kompleks kilang minyak industri dengan deretan pipa dan cerobong di bawah langit senja berawan.
Ilustrasi: Kompleks kilang minyak industri dengan deretan pipa dan cerobong di bawah langit senja berawan. · Foto: Tom Fisk / Pexels

Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,75 persen ke level 6.146,72 pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, setelah mayoritas sektor saham melemah.

Data RTI yang dikutip Liputan6.com mencatat IHSG sempat bergerak pada level tertinggi 6.214,76 dan terendah 6.136,19. Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang turun 0,40 persen menjadi 605,72.

Tekanan pasar saham domestik berlangsung sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa regional Asia. Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengaitkan kondisi itu dengan kenaikan harga minyak mentah dunia setelah eskalasi serangan Houthi mengganggu jalur distribusi energi.

Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi energi. Pada saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat masih menguat sehingga mata uang Asia, termasuk rupiah, cenderung tertekan.

Mengapa tekanan eksternal penting bagi investor Indonesia

Perubahan harga minyak dan nilai tukar dapat memengaruhi sentimen investor terhadap saham domestik. Kenaikan biaya energi berpotensi memperbesar perhatian pasar terhadap inflasi, sementara penguatan dolar Amerika Serikat dapat menambah tekanan terhadap mata uang Asia. Pergerakan bursa regional juga menjadi acuan sentimen ketika investor menilai risiko pasar Indonesia.

Data perdagangan menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada satu kelompok saham. Liputan6.com melaporkan mayoritas sektor saham berada di zona merah pada penutupan perdagangan tersebut. CNBC Indonesia mencatat sektor energi turun 2,6 persen, sektor infrastruktur turun 1,8 persen, dan sektor material dasar turun 0,8 persen.

Perdagangan berlangsung pada Rabu, 7 Oktober 2026, di Jakarta. Laporan Kontan pada 8 Oktober 2026 menyebut kenaikan harga minyak dunia, imbal hasil US Treasury, dan penguatan dolar Amerika Serikat masih membatasi ruang penguatan IHSG. Laporan itu juga menyebut tekanan eksternal menjadi risiko utama indeks.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.