Mengapa Rekrutmen TNI Menimbang Talenta Siber di Jakarta?
Arah rekrutmen TNI dan Polri mulai menimbang kemampuan intelektual serta keahlian teknologi untuk menghadapi perang hibrida, ancaman siber, dan penggunaan wahana nirawak.
Oleh Arsyid Muhamad
· 2 menit baca
Jakarta — Presiden Prabowo Subianto mengarahkan perubahan sistem rekrutmen Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) agar mempertimbangkan kemampuan intelektual, selain aspek fisik, untuk menghadapi perang hibrida dan ancaman teknologi.
Arah tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman setelah taklimat Presiden kepada 800 perwira tinggi TNI dan Polri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026. Menurut Dudung, tantangan perang ke depan mencakup penggunaan pesawat nirawak dan perkembangan teknologi.
Perubahan orientasi itu tidak menghapus persyaratan lain dalam penerimaan prajurit. Rekrutmen TNI tetap berlangsung melalui jalur Tamtama, Bintara, dan Perwira. Persyaratan disesuaikan dengan matra yang dipilih, yakni TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara, serta ketentuan pada setiap periode penerimaan.
Calon prajurit secara umum harus berstatus warga negara Indonesia, setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, memenuhi batas usia dan pendidikan, serta tidak memiliki catatan kriminal. Seleksi juga mencakup pemeriksaan kesehatan jasmani dan rohani, psikologi, mental ideologi, kemampuan jasmani, administrasi, dan pemeriksaan lain sesuai ketentuan.
Kemampuan yang berkaitan dengan teknologi menjadi perhatian karena ancaman keamanan berkembang melampaui pertempuran konvensional. Keahlian siber, teknologi informasi, komunikasi, intelijen, dan sistem persenjataan modern disebut perlu diikuti pendidikan serta pengembangan yang sesuai.
Kemampuan intelektual menjadi bagian dari kesiapan pertahanan
Bagi pembaca di Indonesia, perubahan ini menunjukkan bahwa kebutuhan sumber daya manusia pertahanan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik. Prajurit juga dituntut menguasai teknologi modern, menganalisis situasi, beradaptasi, dan mengambil keputusan secara tepat ketika menghadapi ancaman siber, informasi, dan hibrida.
Perubahan kebutuhan tersebut telah terlihat dalam pengembangan kemampuan personel. Materi pelatihan yang ditinjau Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI di Pusdiklatpassus, Batujajar, Jawa Barat, pada akhir Agustus mencakup operasi siber, peperangan elektronika, serta penggunaan wahana nirawak di udara dan permukaan laut.
Selain jalur rekrutmen umum, TNI juga mencari talenta digital melalui kompetisi siber. Kegiatan itu menjadi bagian dari proses pencarian calon perwira karier dan bintara di bidang siber.
Peserta pencarian talenta tersebut berasal dari latar pendidikan yang beragam, mulai dari lulusan sekolah menengah kejuruan hingga pemegang gelar sarjana dan magister. Setelah tahap penjaringan, calon menjalani penilaian kemampuan akademik dan teknis serta evaluasi ideologi, psikologi, mental, dan semangat juang.
Presiden juga meminta peningkatan profesionalisme personel yang sudah bertugas melalui pendidikan dan pelatihan.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Politik
Indonesia dan Mesir Kecam Operasi Militer Israel di Palestina
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi mengecam operasi militer serta permukiman ilegal Israel di Palestina. Kedua negara m…
Terbaru di Pertahanan

Baca juga



