Kabar18.com

Kamis, 15 Oktober 2026

Pegang Teguh Adat Jambi, Gaya Kepemimpinan Humanis Bupati Fadhil Arief Tuai Apresiasi Tokoh dan Pengamat

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Mursyid Sonsang, Alumni Lemhannas PPSA 12 dan Bahren Nurdin, Dosen UIN Jambi || dok istimewa
Mursyid Sonsang, Alumni Lemhannas PPSA 12 dan Bahren Nurdin, Dosen UIN Jambi || dok istimewa

KABAR18.COM — Kepemimpinan tidak sekadar diukur dari keberhasilan angka-angka pembangunan, melainkan juga dari landasan moral dan etika yang ditunjukkan seorang pemimpin. Di Kabupaten Batang Hari, Bupati Muhammad Fadhil Arief membuktikan bahwa kepemimpinan yang efektif berakar kuat pada nilai-nilai adab, tata krama, dan penghormatan kepada yang lebih tua.

Sikap rendah hati Fadhil Arief kerap terlihat dalam berbagai kesempatan, baik pada forum resmi tingkat kabupaten hingga kunjungan kerja ke pelosok desa dan tingkatan RT. Tanpa canggung, ia sering kali menundukkan badan, menggenggam, dan mencium tangan orang-orang yang ditemuinya. Gestur ini tidak hanya ditunjukkan kepada para tokoh agama dan warga senior, tetapi juga kepada jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga Wakil Bupatinya sendiri, Bakhtiar.

Adab dan Moral sebagai Motor Penggerak Pembangunan

Alumni Lemhannas PPSA 2012 sekaligus mantan Ketua PWI Provinsi Jambi dua periode, Mursyid Sonsang, menilai bahwa gaya kepemimpinan yang berlandaskan etika budaya ini menjadi modal sosial yang sangat berharga. Menurutnya, pelayanan publik yang berdampak luas memerlukan sentuhan humanis agar program yang dirancang dapat diterima dan didukung penuh oleh masyarakat.

"Sopan, hormati orang tuo. Adab dan tata krama adalah hal paling mendasar dalam menjalankan tugas pelayanan publik. Sikap menghormati orang lebih tua, menghargai sesama, dan bersikap rendah hati bukan sekadar kebiasaan budaya semata, melainkan cerminan jiwa pemimpin yang mampu menyatukan berbagai elemen," ungkap Mursyid.

Ia menambahkan, perpaduan antara kecakapan kerja dan keluhuran budi pekerti akan mempermudah konsolidasi daerah. Ketika program pembangunan yang menyentuh rakyat berandalkan tata krama yang baik, kepercayaan publik (public trust) akan menguat secara alami. Bagi Mursyid, kebudayaan adalah landasan moral, sementara kesejahteraan rakyat adalah tujuan akhirnya.

Cermin Adat Melayu: Sayang Pado yang Kecik, Hormat Pado yang Tuo

Pandangan senada disampaikan oleh Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik, Bahren Nurdin. Ia menyoroti bagaimana keteguhan Fadhil Arief dalam memegang teguh filosofi adat Melayu Jambi menjadi contoh nyata kepemimpinan yang membumi.

“Itulah selayaknya pemimpin Jambi yang memegang teguh adat istiadat: sayang pado yang kecik, hormat pado yang tuo. Jabatan tidak boleh menghilangkan tata krama. Justru, seorang pemimpin harus menunjukkan adab yang lebih tinggi daripada orang yang dipimpinnya,” jelas Bahren.

Bahren menilai, tindakan konsisten Bupati Batang Hari tersebut mencerminkan kesadaran penuh bahwa kekuasaan dan jabatan struktural hanyalah sebuah titipan sementara. Nilai-nilai keteladanan seperti ini sangat krusial di tengah erosi moral modernisasi, karena dapat menjadi sarana edukasi karakter langsung bagi generasi muda dalam memelihara penghormatan kepada orang tua dan sesama.****

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ragam

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.