Pemerintah Pertahankan Harga BBM Subsidi Saat Hormuz Memanas
Pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi pada 1 Oktober 2026 saat ketegangan Amerika Serikat dan Iran mengganggu perdagangan di Selat Hormuz. Pertalite dan Solar tetap hingga akhir tahun.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Jakarta — Pemerintah Indonesia pada Kamis, 1 Oktober 2026, menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak otomatis mengikuti kenaikan harga minyak dunia di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan harga BBM non-subsidi mengikuti perkembangan pasar dan dievaluasi setiap bulan. Sebaliknya, pemerintah memilih mempertahankan harga BBM bersubsidi.
Harga Pertalite dan Solar dipastikan tetap hingga akhir 2026. Perubahan harga BBM non-subsidi mempertimbangkan harga minyak, Means of Platts Singapore (MOPS), kurs, serta parameter lain.
Pergerakan minyak global turut dipengaruhi hubungan Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu perdagangan di Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi perhatian karena gangguan di kawasan itu dapat memengaruhi pasokan energi dan harga minyak dunia.
Selat Hormuz berpengaruh pada pasokan energi Indonesia
Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan tersebut berkaitan dengan kemungkinan perubahan harga BBM non-subsidi dan tekanan terhadap kebijakan subsidi energi. Pemerintah tidak sepenuhnya mengikuti pergerakan harga minyak dunia untuk BBM bersubsidi.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November dilaporkan naik 91 sen atau 0,9 persen menjadi US$103,50 per barel. Kontrak Brent untuk pengiriman Desember yang lebih aktif naik US$1,87 atau 1,9 persen menjadi US$98,03 per barel.
Dengan kebijakan yang berlaku pada 1 Oktober 2026, Pertalite dan Solar tetap dipertahankan, sementara BBM non-subsidi dapat mengikuti evaluasi harga pasar.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Hiburan
Primetime Pecahkan Rekor Pembukaan A24 di Amerika Serikat dan Kanada
Primetime meraih USD 19,2 juta pada pekan perdana di Amerika Serikat dan Kanada. Capaian itu menjadi pembukaan terbesar A24 untuk film yang dibintangi…
Terbaru di Internasional
Berita utama hari ini

Baca juga





