WPP Media Catat Social Commerce Asia Pasifik Tumbuh 81%
WPP Media menyebut GMV social commerce Asia Pasifik melampaui US$23,2 miliar dan tumbuh 81% secara tahunan. Temuan itu dimuat dalam studi ekonomi kreator kawasan.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Jakarta — WPP Media Indonesia akan mempertemukan 400 pemimpin pemasaran Asia Pasifik dalam Content Day 2026 di Jakarta pada Kamis, 15 Oktober 2026, sekaligus meluncurkan riset ekonomi kreator kawasan.
Riset APAC Creator Economy Landscape Study 2026, yang disusun WPP Media bersama Kalodata, merangkum temuan dari 15 pasar di Asia Pasifik. Salah satu temuan utamanya menyebut nilai gross merchandise value (GMV), atau nilai transaksi bruto, social commerce di kawasan itu melampaui US$23,2 miliar dan tumbuh 81% secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan pergeseran perhatian dari sekadar interaksi di media sosial menuju tindakan perdagangan yang dapat diukur. Bagi pelaku usaha, pengukuran transaksi dan atribusi penjualan menjadi bagian penting untuk menilai dampak konten, kreator, dan kanal afiliasi terhadap hasil penjualan.
Transaksi social commerce perlu dibaca bersama atribusi penjualan
Studi itu juga mencatat GMV afiliasi melonjak 121% menjadi US$14,0 miliar dan menyumbang 65% dari seluruh transaksi social commerce. Di Asia Pasifik terdapat 19,4 juta afiliator aktif, sementara konten afiliasi menyumbang lebih dari 80% visibilitas kreator pada momen belanja utama seperti Ramadan dan 12.12.
Temuan lain dalam studi tersebut memperlihatkan volume konten meningkat 37% dan jumlah penayangan naik 9% di pasar dengan pertumbuhan utama seperti Indonesia. Namun, tingkat engagement tradisional turun 11% secara tahunan atau 3% secara regional. Perbandingan ini menjadi konteks bagi perusahaan ketika mengevaluasi keberhasilan kampanye berdasarkan transaksi, bukan hanya ukuran interaksi.
Content Day 2026: The Age of Influence dijadwalkan berlangsung di Ciputra Artpreneur, Lantai 11, Jakarta. Peluncuran studi dan pertemuan pemimpin pemasaran menjadi bagian dari agenda acara WPP Media Indonesia tersebut.
Sumber
Baca berikutnya
Terbaru di Analisis

Mengapa Ketahanan Eksternal Indonesia Tetap Terjaga pada 2025?
Indonesia menutup 2025 dengan defisit transaksi berjalan yang rendah dan cadangan devisa meningkat. Angka ini menunjukkan daya tahan eksternal, tetapi…
Berita utama hari ini


