Bank Indonesia Jelaskan Tekanan Rupiah di Jakarta
Bank Indonesia menyebut rupiah tertekan oleh inflasi global, risiko fiskal, minyak di atas US$108 per barel, dan kebutuhan valuta asing importir. Cadangan devisa akhir Agustus mencapai US$146,5 miliar.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Jakarta — Bank Indonesia (BI) menjelaskan tekanan terhadap rupiah pada 30 September 2026 dipengaruhi kekhawatiran inflasi global, risiko fiskal, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir kuartal III 2026.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan harga minyak naik hingga di atas US$108 per barel karena belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Kondisi itu mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.
Tekanan juga datang dari kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir kuartal III 2026. Dolar Amerika Serikat kembali berada pada level Rp18.000, sementara Bank Indonesia menyatakan pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan.
Secara quarter-to-date, pelemahan rupiah disebut terbatas sebesar 0,67 persen. Di tengah tekanan nilai tukar, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
Mengapa tekanan rupiah penting bagi Indonesia
Pergerakan rupiah berpengaruh terhadap biaya transaksi dalam dolar Amerika Serikat, terutama bagi importir. Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor eksternal yang dapat memperbesar kebutuhan valuta asing dan menambah tekanan pada nilai tukar.
Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 meningkat dari US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Bank Indonesia juga menyatakan tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika ketidakpastian pasar keuangan global meningkat. Selain minyak, risiko fiskal dan tekanan inflasi global menjadi faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah.
Rupiah masih bergerak sejalan dengan mata uang kawasan meskipun menghadapi tekanan menjelang akhir kuartal III 2026. Faktor yang sama mencakup kebutuhan valuta asing importir dan kenaikan harga minyak di atas US$108 per barel.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Politik
DPR Tunda Audiensi Partai Nonparlemen di Jakarta
DPR menunda audiensi dengan partai nonparlemen terkait RUU Pemilu yang semula berlangsung pada Selasa di Jakarta. Sufmi Dasco Ahmad menyebut pertemuan…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga





