Kabar18.com

Rabu, 30 September 2026

Bank Indonesia Jelaskan Tekanan Rupiah di Jakarta

Bank Indonesia menyebut rupiah tertekan oleh inflasi global, risiko fiskal, minyak di atas US$108 per barel, dan kebutuhan valuta asing importir. Cadangan devisa akhir Agustus mencapai US$146,5 miliar.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tumpukan drum bahan bakar tua yang berkarat dengan tulisan angka dan label.
Ilustrasi: Tumpukan drum bahan bakar tua yang berkarat dengan tulisan angka dan label. · Foto: Waldemar Brandt / Pexels

Jakarta — Bank Indonesia (BI) menjelaskan tekanan terhadap rupiah pada 30 September 2026 dipengaruhi kekhawatiran inflasi global, risiko fiskal, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir kuartal III 2026.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan harga minyak naik hingga di atas US$108 per barel karena belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Kondisi itu mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.

Tekanan juga datang dari kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir kuartal III 2026. Dolar Amerika Serikat kembali berada pada level Rp18.000, sementara Bank Indonesia menyatakan pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan.

Secara quarter-to-date, pelemahan rupiah disebut terbatas sebesar 0,67 persen. Di tengah tekanan nilai tukar, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

Mengapa tekanan rupiah penting bagi Indonesia

Pergerakan rupiah berpengaruh terhadap biaya transaksi dalam dolar Amerika Serikat, terutama bagi importir. Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor eksternal yang dapat memperbesar kebutuhan valuta asing dan menambah tekanan pada nilai tukar.

Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 meningkat dari US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia juga menyatakan tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika ketidakpastian pasar keuangan global meningkat. Selain minyak, risiko fiskal dan tekanan inflasi global menjadi faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah.

Rupiah masih bergerak sejalan dengan mata uang kawasan meskipun menghadapi tekanan menjelang akhir kuartal III 2026. Faktor yang sama mencakup kebutuhan valuta asing importir dan kenaikan harga minyak di atas US$108 per barel.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.