Mengapa Ocoh Berhasil Panen Bawang di Tengah Kemarau Sumedang
Ocoh memanen lebih dari 10 ton bawang merah di Desa Tolengas, Sumedang, saat kemarau panjang. Panen itu melibatkan sekitar 50 warga setempat.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 1 menit baca
Sumedang — Ocoh, petani berusia 62 tahun, memanen lebih dari 10 ton bawang merah di lahan Desa Tolengas, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, pada Rabu (23/9/2026). Panen tersebut berlangsung saat wilayah itu menghadapi kemarau panjang.
Ocoh mengandalkan sumber air lokal untuk mempertahankan tanaman bawang merah hingga masa panen. Hasil produksi itu disebut mencapai sekitar 10 ton, sedangkan Ocoh menyampaikan hasilnya lebih dari 10 ton. Harga jual di tingkat petani berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.
Panen raya tersebut melibatkan sekitar 50 warga setempat. Keterlibatan warga membantu proses panen sekaligus menunjukkan kerja bersama masyarakat Desa Tolengas dalam menghadapi kondisi cuaca yang sulit.
Mengapa panen Ocoh penting bagi ketahanan pangan lokal?
Panen di tengah kemarau memperlihatkan bahwa ketersediaan sumber air menjadi faktor penting bagi petani bawang merah. Kasus Ocoh juga menunjukkan peran tenaga warga dalam menjaga kegiatan pertanian tetap berjalan ketika kondisi cuaca meningkatkan tantangan di lapangan.
Bagi pembaca, keberhasilan panen ini berkaitan dengan pasokan pangan dan penghasilan petani. Bawang merah yang diproduksi di Sumedang dapat menjadi bagian dari rantai pasok komoditas pangan, sementara harga di tingkat petani memberi gambaran nilai jual hasil panen.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Hukum
Dari Laut ke TPA, 429 Karung Bawang Ilegal Berakhir Dikubur di Talang Gulo
Anggota Subdit Gakkum Dit Polairud Polda Jambi memusnahkan 429 karung bawang merah ilegal
Terbaru di Inspirasi

Berita utama hari ini

Baca juga





