Pelantikan JMSI Sumbar 2026: Perkuat Barisan Media Siber, Lima Tokoh Raih JMSI Awards, Salah Satunya Rabiatul Adawiyyah, Mengajar di Ujung Negeri, Tanpa Gaji

Pelantikan JMSI Sumbar 2026: Perkuat Barisan Media Siber, Lima Tokoh Raih JMSI Awards, Salah Satunya Rabiatul Adawiyyah, Mengajar di Ujung Negeri, Tanpa Gaji

Reporter: Tim | Editor: Admin
Pelantikan JMSI Sumbar 2026: Perkuat Barisan Media Siber, Lima Tokoh Raih JMSI Awards, Salah Satunya Rabiatul Adawiyyah, Mengajar di Ujung Negeri, Tanpa Gaji
Pelantikan JMSI Sumbar 2026 || dok jmsi

 

KABAR18.COM — Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumatera Barat memasuki babak baru. Pelantikan kepengurusan JMSI Sumbar 2026 menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan komitmen untuk memperkuat peran perusahaan pers dalam membangun ekosistem media siber yang profesional, kredibel dan bertanggung jawab.

Tak hanya pelantikan, momentum tersebut juga dirangkai dengan JMSI Awards 2026, sebuah penghargaan yang diberikan kepada sejumlah tokoh dari berbagai bidang yang dinilai memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah.

Lima nama dengan kiprah berbeda menerima penghargaan. Mereka berasal dari dunia politik, lingkungan hidup, kebencanaan, usaha menengah kecil hingga pendidikan di daerah terpencil.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Di dalamnya terdapat pesan bahwa keberadaan media tidak hanya berkaitan dengan pemberitaan, tetapi juga bagaimana pers memberikan apresiasi kepada orang-orang yang bekerja dan berkontribusi bagi kepentingan masyarakat.

Aguswanto Pimpin JMSI Sumbar

Pelantikan JMSI Sumbar 2026 sekaligus menandai kehadiran kepengurusan baru yang diharapkan mampu membawa organisasi semakin solid dan adaptif menghadapi perkembangan industri media digital.

Aguswanto dipercaya memimpin JMSI Sumbar. Sebelum menjadi ketua, Aguswanto merupakan sekretaris Pengda JMSI Sumbar pada periode sebelumnya.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam melanjutkan konsolidasi organisasi serta memperkuat hubungan antarpelaku perusahaan pers di Sumatera Barat.

Dalam kepengurusan baru, posisi sekretaris dipercayakan kepada Almudazir, owner Mimbar Media Grup yang juga merupakan Ketua PJKIP Sumatera Barat.

Sementara posisi bendahara umum ditempati Yofialdi. Selain menjabat Direktur Utama Valoranaews Grup, Yofialdi juga dipercaya sebagai Presidium KAHMI Sumbar periode 2026–2031 dan Ketua Pengprov Squash Sumbar periode 2026–2031.

Komposisi tersebut diharapkan mampu memperkuat organisasi, baik dari sisi pengelolaan perusahaan pers maupun jejaring kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat.

Bagi JMSI Sumbar, tantangan media siber ke depan bukan semakin ringan. Perubahan teknologi, persaingan mendapatkan perhatian publik, derasnya arus informasi dan maraknya informasi yang belum terverifikasi menuntut perusahaan pers meningkatkan kualitas dan profesionalisme.

Lima Tokoh Terima JMSI Awards 2026

Di tengah momentum pelantikan tersebut, perhatian juga tertuju pada JMSI Awards 2026.

Lima tokoh dianugerahi penghargaan atas kiprah dan kontribusi mereka di bidang masing-masing.

Penghargaan ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi JMSI Sumbar terhadap figur-figur yang dinilai memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Ketua Tim Penilai Anugerah JMSI Award, Dr. Hary Efendi Iskandar, mengatakan proses penilaian menjadi bagian penting untuk memastikan penghargaan diberikan kepada sosok yang benar-benar memiliki rekam kontribusi dan pengabdian bagi masyarakat.

Karena itu, penghargaan tidak semata-mata melihat popularitas seorang tokoh. Ada nilai pengabdian, konsistensi, manfaat dan dampak yang menjadi perhatian dalam menentukan penerima Anugerah JMSI Award.

Arisal Aziz — Tokoh Publik Terpilih

Arisal Aziz, anggota DPR RI, menerima penghargaan sebagai Tokoh Publik Terpilih.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi terhadap kiprahnya di ruang publik dan perannya sebagai wakil masyarakat di tingkat nasional.

Kehadiran tokoh publik dalam JMSI Awards juga menunjukkan bahwa hubungan media dengan pemangku kepentingan tidak semata-mata berada dalam ruang pemberitaan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi publik yang sehat.

Dewi Sukmawati — Tokoh Peduli Lingkungan

Berikutnya, Dewi Sukmawati menerima penghargaan sebagai Tokoh Peduli Lingkungan.

Dedikasinya dalam menginisiasi bank sampah menjadi salah satu perhatian dalam pemberian penghargaan tersebut.

Bank sampah bukan hanya berkaitan dengan persoalan pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.

Gerakan yang dimulai dari masyarakat tersebut memiliki nilai penting karena persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi publik.

Patra Rina Dewi — Tokoh Penanganan Bencana

Untuk kategori Tokoh Penanganan Bencana, penghargaan diberikan kepada Patra Rina Dewi, pendiri KOGAMI Sumatera Barat.

Dedikasinya dalam bidang kebencanaan mendapat apresiasi karena persoalan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana merupakan kebutuhan penting bagi Sumatera Barat.

Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kerja-kerja kebencanaan membutuhkan kepedulian, edukasi dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

Ronal Wahtudi — Penggerak Usaha Menengah Kecil

Ronal Wahtudi, pengusaha kopi, menerima penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Menengah Kecil.

Kiprahnya dalam dunia usaha menjadi bagian dari geliat ekonomi masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian.

Usaha menengah dan kecil memiliki posisi penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. Di balik sebuah usaha terdapat lapangan pekerjaan, rantai ekonomi serta peluang bagi masyarakat untuk berkembang secara mandiri.

Melalui penghargaan ini, JMSI Sumbar memberikan perhatian terhadap tokoh yang ikut menggerakkan sektor ekonomi dari bawah.

Rabiatul Adawiyyah — Mengajar di Ujung Negeri, Tanpa Gaji

Namun, ada satu kisah yang membuat JMSI Awards 2026 terasa berbeda.

Di antara nama-nama penerima penghargaan, terdapat Rabiatul Adawiyyah, seorang pengajar di Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Matotonan bukan sekadar sebuah nama desa di peta Sumatera Barat.

Wilayah ini berada di kawasan 3T — tertinggal, terdepan dan terluar. Akses, jarak dan kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

Di tempat seperti itulah Rabiatul Adawiyyah memilih mengabdikan dirinya.

Ia mengajar anak-anak di Matotonan tanpa menerima gaji sedikit pun.

Tidak ada kepastian materi yang menjadi alasan ia bertahan. Tidak ada kemewahan fasilitas yang menjadi daya tarik. Yang ada adalah keinginan untuk memastikan anak-anak di wilayah 3T tetap memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan.

Di saat sebagian orang mungkin mengukur pengabdian dari besarnya imbalan, Rabiatul justru memilih jalan berbeda.

 

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Kabar Lainnya

Kabar Lainnya