Rupiah Melemah Saat Mata Uang Asia Tertekan Dolar AS
Sembilan mata uang Asia yang dipantau berada di zona merah pada perdagangan pagi 6 Oktober 2026. Rupiah turun 0,06% ke level Rp17.905 per dolar AS.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Jakarta — Sejumlah mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi Selasa, 6 Oktober 2026, sementara rupiah turun 0,06% ke level Rp17.905 per dolar AS.
Data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia pada pukul 09.15 WIB menunjukkan seluruh sembilan mata uang Asia yang dipantau berada di zona merah. Pergerakan tersebut berlangsung ketika indeks dolar AS relatif stagnan.
Selain rupiah, dolar Singapura terdepresiasi 0,05% ke SGD1,2796 per dolar AS. Dolar Taiwan dan baht Thailand masing-masing melemah 0,03% ke TWD31,72 dan THB33,65 per dolar AS.
Yen Jepang terkoreksi 0,02% ke JPY157,94 per dolar AS. Ringgit Malaysia mencatat pelemahan paling tipis, yakni 0,01% ke MYR4,085 per dolar AS. Indeks dolar AS berada di level 102,159 pada pukul 09.15 WIB.
Pelemahan Asia memengaruhi biaya impor Indonesia
Perubahan nilai tukar mata uang Asia relevan bagi pembaca Indonesia karena rupiah dan mata uang mitra dagang kawasan bergerak terhadap dolar AS. Kurs rupiah Rp17.905 per dolar AS menjadi salah satu ukuran yang perlu diperhatikan pelaku usaha dalam transaksi perdagangan dan pasar keuangan.
CNBC Indonesia melaporkan tekanan terjadi serentak pada sembilan mata uang Asia yang dipantau. Laporan lain pada pagi yang sama mencatat rupiah dibuka menguat ke level Rp17.916 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg, sehingga angka dan waktu pengamatan dapat berbeda sesuai sumber serta momen perdagangan.
Perkembangan berikutnya bergantung pada pergerakan pasar valuta asing sepanjang perdagangan Selasa. Tidak ada laporan yang menyebutkan keputusan atau tindakan lanjutan tertentu.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Analisis
ISF 2026 Bahas Pertumbuhan Rendah Karbon di Jakarta
Indonesia International Sustainability Forum 2026 berlangsung di Jakarta pada 6–7 Oktober. Lebih dari 200 pembicara membahas pertumbuhan rendah karbon…
Terbaru di Internasional
Berita utama hari ini

Baca juga




