Kabar18.com

Minggu, 11 Oktober 2026

The Fed dan Konflik Timur Tengah Membayangi Pasar Indonesia

Pasar keuangan Indonesia mencermati kebijakan Federal Reserve dan konflik Timur Tengah. Imbal hasil SRBI turun menjadi 6,48 persen, sementara rupiah bertahan di kisaran Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Grafik lilin pergerakan harga pasar keuangan pada layar digital berlatar gelap.
Ilustrasi: Grafik lilin pergerakan harga pasar keuangan pada layar digital berlatar gelap. · Foto: Rafael Minguet Delgado / Pexels

Jakarta — Pasar keuangan Indonesia pada pekan 11 Oktober 2026 mencermati kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik Timur Tengah. Perhatian itu datang ketika imbal hasil rata-rata tertimbang lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turun menjadi 6,48 persen dan rupiah bertahan di kisaran Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat.

Liputan6 melaporkan bahwa sentimen global dan perkembangan Timur Tengah menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar. Laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah sempat memunculkan harapan bahwa Federal Reserve akan memperlambat kebijakan moneter. Namun, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan kenaikan suku bunga lanjutan masih diperlukan, dengan fleksibilitas mengenai waktu pelaksanaannya.

Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 20 persen pada rapat Oktober dan mengantisipasi satu kali kenaikan pada Desember. Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan naik sekitar 2,6 persen pada Senin dan Selasa, kemudian sempat turun setelah risalah rapat Federal Reserve bernada hawkish sebelum pulih pada Jumat.

Sentimen global menentukan ruang gerak rupiah

Perkembangan pasar domestik berlangsung di tengah tekanan eksternal. CNBC Indonesia mencatat pasar keuangan Indonesia juga dibayangi konflik Timur Tengah dan rilis data ekonomi dalam serta luar negeri yang arahnya belum pasti. Pada 6 Oktober 2026, rupiah ditutup di level Rp17.890 per dolar Amerika Serikat, sedangkan pada 7 Oktober 2026 rupiah berada di level Rp17.875 per dolar Amerika Serikat.

Penurunan imbal hasil SRBI dari 6,75 persen dua pekan sebelumnya menjadi 6,48 persen menunjukkan perubahan pada instrumen rupiah jangka pendek. Liputan6 menyebut permintaan terhadap aset rupiah jangka pendek tetap kuat, sementara Bank Indonesia berupaya menjaga biaya pinjaman jangka pendek dan menstabilkan nilai tukar melalui intervensi.

Faktor yang perlu dicermati berikutnya meliputi respons Iran terhadap usulan Amerika Serikat, data inflasi Amerika Serikat pada 14 Oktober, potensi serangan lanjutan di Timur Tengah, serta rapat kebijakan Bank Indonesia pada 20–21 Oktober 2026.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi & Keuangan

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.