BRIN: Jakarta Paling Rentan Kekeringan Hidrologis dan Defisit Air
Peneliti BRIN menyebut Jakarta sebagai daerah paling rentan dalam hotspot defisit air nasional di tengah ancaman kekeringan hidrologis akibat kemarau panjang dan El Nino.
Oleh Pandi Muktar
· 3 menit baca
Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Jakarta sebagai daerah paling rentan dalam hotspot defisit air nasional di tengah ancaman kekeringan hidrologis yang dipicu kemarau panjang dan fenomena El Nino.
Head Drinking Water and Sanitation Research Group di Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Ignasius Sutapa, menjelaskan kekeringan hidrologis di Jakarta ditandai penurunan debit sungai, muka air tanah, dan volume waduk di bawah kondisi normal dalam periode panjang setelah hari tanpa hujan lebih dari 60 hari.
Menurut dia, Jakarta bagian utara telah lebih dulu mengalami musim kemarau sejak Mei, lebih awal dibanding wilayah selatan yang baru memasuki kemarau pada Juni–Juli. Ia memperingatkan jika El Nino berlanjut, kekeringan hidrologis tahun ini bisa menjadi yang terparah dalam satu dekade terakhir.
Wilayah Paling Rawan di Jakarta
Ignasius memaparkan tiga kelompok wilayah di Jakarta yang dinilai paling rawan kekeringan hidrologis. Pertama, Jakarta Selatan Atas yang meliputi Cilandak, Jagakarsa, dan Pasar Minggu.
Di kawasan ini, warga umumnya mengandalkan sumur dangkal dengan kedalaman kurang dari 40 meter. Kondisi tersebut dinilai berisiko karena muka air tanah turun lebih dulu sehingga pasokan air rumah tangga dapat terganggu.
Kedua, Jakarta Barat dan Timur pinggiran seperti Meruya, Cakung, dan Kalisari. Wilayah ini belum seluruhnya terlayani jaringan distribusi air perpipaan dan memiliki topografi relatif tinggi dengan tekanan air rendah.
Ketiga, Jakarta Utara pesisir seperti Penjaringan dan Marunda. Daerah ini terindikasi berisiko intrusi air laut, sementara air perpipaan cenderung sulit naik ke pelanggan ketika debit waduk menurun dan tekanan jaringan melemah.
Status Awas dan Ketersediaan Air
Ignasius menyebut Jakarta saat ini berada pada status awas kekeringan hidrologis berdasarkan prakiraan curah hujan yang rendah selama dasarian, dengan ketahanan sekitar 60–90 hari tanpa hujan signifikan.
Meski demikian, kajian lain dari peneliti BRIN Irfan Budi Pramono menunjukkan pasokan air baku yang disalurkan ke masyarakat masih dinilai relatif aman untuk jangka pendek, meski jauh di bawah kebutuhan.
Irfan memperkirakan kebutuhan air warga Jakarta telah mencapai sekitar 30 ribu liter per detik, sedangkan yang dapat disalurkan baru sekitar 18 ribu liter per detik. Ia menilai kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan ini dapat menjadi “bom waktu” jika tidak diantisipasi melalui pengelolaan sumber daya air dan daerah aliran sungai.
Perlu Strategi Mitigasi dan Pengelolaan Air
Peneliti BRIN menekankan perlunya strategi mitigasi kekeringan hidrologis yang terintegrasi, meliputi pengelolaan daerah imbuhan air tanah, optimalisasi waduk dan jaringan sungai, serta perluasan layanan air perpipaan.
Mereka juga mendorong langkah jangka panjang seperti pemulihan fungsi resapan buatan untuk mengoptimalkan pengisian akuifer dan menjaga aliran dasar sungai, agar Ibu Kota tidak terus berada dalam tekanan defisit air saat kemarau panjang berulang.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Terbaru di Lingkungan

Baca juga





