Kabar18.com

Senin, 5 Oktober 2026

Erupsi Anak Krakatau Ganggu Operasional Sejumlah Bandara

Erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu operasional sejumlah bandara pada September 2026. Pengelola memperkirakan kerugian sekitar Rp40 miliar dan lebih dari 200.000 penumpang terdampak.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Beberapa pesawat komersial terparkir di apron bandara di bawah langit cerah berawan.
Ilustrasi: Beberapa pesawat komersial terparkir di apron bandara di bawah langit cerah berawan. · Foto: Atlantic Ambience / Pexels

Bandung — PT Angkasa Pura Indonesia memperkirakan penutupan sejumlah bandara akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 menimbulkan kerugian sekitar Rp40 miliar.

Direktur Operasi InJourney Airports, Agus Haryadi, menyebut kerugian itu berkaitan dengan penutupan bandara selama dua hari. Bandara Internasional Soekarno-Hatta termasuk fasilitas yang menghentikan operasional sementara, bersama sejumlah bandara lain yang terdampak sebaran abu vulkanik.

Gangguan tersebut berdampak pada perjalanan udara dan penumpang. Soekarno-Hatta dalam kondisi normal melayani sekitar 1.000 pergerakan pesawat dan 130.000 penumpang per hari. Jika digabungkan dengan dampak di bandara lain, jumlah penumpang yang terdampak diperkirakan lebih dari 200.000 orang.

Sejumlah laporan menyebut penutupan operasional berlangsung pada 5 September hingga 8 September 2026, dengan durasi penutupan tidak sama di setiap bandara. Bandara yang disebut terdampak antara lain Soekarno-Hatta di Banten, Halim Perdanakusuma di Jakarta, Radin Inten II di Lampung, Husein Sastranegara di Bandung, Budiarto di Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Mengapa penting bagi pembaca

Penutupan bandara menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik dapat mengganggu konektivitas udara di beberapa wilayah sekaligus. Dampaknya tidak hanya dirasakan maskapai dan pengelola bandara, tetapi juga penumpang yang mengalami pembatalan atau penundaan perjalanan serta kegiatan ekonomi yang bergantung pada kelancaran penerbangan.

Kementerian Perhubungan menyatakan keselamatan penerbangan menjadi dasar penghentian sementara operasional ketika abu vulkanik berada di ruang udara.

Besaran kerugian sekitar Rp40 miliar merupakan perkiraan pengelola untuk penutupan selama dua hari, bukan angka kerugian seluruh sektor penerbangan atau perekonomian. Laporan yang tersedia juga menyebut dampak operasional meluas karena beberapa bandara mengalami penutupan atau penyesuaian penerbangan akibat abu vulkanik.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.