Erupsi Anak Krakatau Ganggu Operasional Sejumlah Bandara
Erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu operasional sejumlah bandara pada September 2026. Pengelola memperkirakan kerugian sekitar Rp40 miliar dan lebih dari 200.000 penumpang terdampak.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Bandung — PT Angkasa Pura Indonesia memperkirakan penutupan sejumlah bandara akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 menimbulkan kerugian sekitar Rp40 miliar.
Direktur Operasi InJourney Airports, Agus Haryadi, menyebut kerugian itu berkaitan dengan penutupan bandara selama dua hari. Bandara Internasional Soekarno-Hatta termasuk fasilitas yang menghentikan operasional sementara, bersama sejumlah bandara lain yang terdampak sebaran abu vulkanik.
Gangguan tersebut berdampak pada perjalanan udara dan penumpang. Soekarno-Hatta dalam kondisi normal melayani sekitar 1.000 pergerakan pesawat dan 130.000 penumpang per hari. Jika digabungkan dengan dampak di bandara lain, jumlah penumpang yang terdampak diperkirakan lebih dari 200.000 orang.
Sejumlah laporan menyebut penutupan operasional berlangsung pada 5 September hingga 8 September 2026, dengan durasi penutupan tidak sama di setiap bandara. Bandara yang disebut terdampak antara lain Soekarno-Hatta di Banten, Halim Perdanakusuma di Jakarta, Radin Inten II di Lampung, Husein Sastranegara di Bandung, Budiarto di Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Mengapa penting bagi pembaca
Penutupan bandara menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik dapat mengganggu konektivitas udara di beberapa wilayah sekaligus. Dampaknya tidak hanya dirasakan maskapai dan pengelola bandara, tetapi juga penumpang yang mengalami pembatalan atau penundaan perjalanan serta kegiatan ekonomi yang bergantung pada kelancaran penerbangan.
Kementerian Perhubungan menyatakan keselamatan penerbangan menjadi dasar penghentian sementara operasional ketika abu vulkanik berada di ruang udara.
Besaran kerugian sekitar Rp40 miliar merupakan perkiraan pengelola untuk penutupan selama dua hari, bukan angka kerugian seluruh sektor penerbangan atau perekonomian. Laporan yang tersedia juga menyebut dampak operasional meluas karena beberapa bandara mengalami penutupan atau penyesuaian penerbangan akibat abu vulkanik.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Pariwisata
Penerbangan Labuan Bajo Mulai Penuh, Kunjungan Turun 5 Persen
Kadin Manggarai Barat menyebut penerbangan menuju Labuan Bajo mulai ramai pada high season 2 Oktober 2026. Kunjungan wisatawan masih diperkirakan turu…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga




