Kabar18.com

Kamis, 15 Oktober 2026

Haruskah Alharis Cemas Terhadap Tantangan Romi ?

Al-Haris dan Romi Haryanto

Redaksi Kabar18

· 4 menit baca

Al-Haris dan Romi Haryanto
Al-Haris dan Romi Haryanto

Catatan Welly Bronson

Membaca opini seorang pengamat politik Jambi di sebuah media online, saya agak tergelitik. Betapa tidak, tulisan itu mengesankan betapa kuatnya posisi gubernur incumbent Alharis. Atau setidaknya mencoba menggiring opini soal beratnya bagi siapapun menantang incumbent. 

 

Si PENGAMAT memaparkan sejumlah fasilitas kekuatan incumbent. Mulai dari sejumlah pelaksana tugas kepala daerah jelang Pilkada serentak tahun 2024 yang dapat dianggap sebagai jejaring incumbent. Di Jambi saat ini ada tiga Plt kepala daeah. Muarojambi, Tebo dan Sarolangun. Jumlah ini akan bertambah seiring habisnya masa lima tahunan jabatan sejumlah kepala daerah. 

Dia juga mencoba meminimalisir ‘dosa’ incumbent dengan hanya menyebut soal kisruh kemacetan akibat batubara. Seolah hanya itu cela incumbent. Apalagi kemudian soal ini dibumbui dengan tudingan bahwa Romi, satu - satunya penantang Alharis yang saat ini muncul, memanfaatkan isu tersebut sebagai penarik simpati. 

Meski sejauh ini Romi tidak pernah berstatement soal kemacetan akibat angkutan batubara itu, paling tidak si pengamat mengakui bahwa isu itu bisa menggerus elektabilitas incumbent.

Opini pengamat tersebut jelas patut diapresiasi sebagai sebuah potret dinamika perpolitikan di Jambi saat ini. Namun patut pula disayangkan tulisan tersebut akhirnya dengan mudah memunculkan kesimpulan yang terlalu prematur: bahwa Romi sebaiknya besabar dan legowo berduet dengan Alharis. Salah satu pertimbangannya, Alharis dan Romi dalam rumah yang sama, PAN.

Sepertinya ia melupakan sejarah perjalanan beberapa kontestasi electoral di Jambi yang semestinya patut dicermati. Minimal sebagai acuan pelengkap potret politik Jambi yang lebih utuh. 

Sejarah Jambi mencatat beberapa dinamika itu. Pilgub 2020 lalu misalnya, keputusan PAN yang pada lastminute mengusung Alharis bukanlah peristiwa biasa. Publik masih ingat waktu itu PAN menjadi rebutan Fasha dan Alharis. Jika saja pertimbangan elektabilitas atau ‘isi tas’ sekalipun, sebenarnya Fasha lebih berpeluang untuk diusung PAN. 

Namun putusan akhir berkata lain. Tak sulit membaca bahwa peristiwa itu, terlebih seharusnya bagi seorang pengamat politik bahwa memang ada campur tangan Romi. Tentu tak menapikan H Bakri sebagai ketua DPW PAN Jambi. Publik juga tentu ingat bahwa Romi adalah penggagas lima bupati yang mendorong majunya Alharis. 

Tak banyak memang orang yang tahu bagaimana tipikal DPP PAN terhadap Jambi. Bagi PAN Jambi itu adalah basis. Capaian besar PAN, salah satuya di daerah ini. Lebih jauh lagi, Tanjung Jabung Timur yang sejak 2004 merupakan basis utama PAN.

Zulhas sebagai ketua umum pernah membanggakan PAN Tanjabatim sedemikian rupa. Dan Romi adalah motor kesuksesan PAN itu selain mendiang Zulkifli Nurdin untuk Provinsi Jambi. Bagi PAN, Romi adalah asset. 

Tantangan terbuka Romi kepada Alharis tentu sudah mempertimbangkan hal itu. Dia kenyang pengalaman soal meraih simpati DPP. Bagaimana pada 2015 PAN lebih memilihnya ketimbang Sum Indra yang kemenakan Zulkifli. Atau yang teranyar bagaimana kemudian PAN mengembalikan posisinya sebagai ketua DPD Tanjabtim setelah mencopotnya setahun sebelumnya. 

Okelah hal – hal di atas tidak terbaca oleh pengamat. Namun, menyimpulkan bahwa Alharis yang fullpower dan minim dosa sukar dikalahkan lalu menyepelekan langkah penantangnya, jelas tak elok.

Sejatinya akhir – akhir ini cukup mudah bagi publik menemukan dosa lain incumbent yang mungkin tak kalah besar dari soal kemacetan akibat angkutan batubara. Sebut saja soal isu RTH, soal PHP, isu mahar jabatan, Sport Center dan cawe – cawe soal lain. Meski masih sebatas isu, perlu kerja keras untuk menepisnya.

Dan yang tak kalah penting untuk kembali diingat Hasan Basri Agus yang fullpower bahkan dosanya relatif jauh lebih kecil, toh tumbang oleh Zumi Zola yang minim pengalaman politik dan pemerintahan. Ia hanya tiga tahun memimpin Tanjabtim. Kebetulan pula, Zola dan Romi sama - sama bupati Tanjabtim. Sosok HBA yang tak banyak cela waktu itu harus diakui jauh lebih kuat dari Alharis. HBA adalah pemenang Pilgub Jambi 2010. Orang bahkan berseloroh bahwa dipasangkan dengan kucing pun sukar mengalahkan HBA 2010. Berbeda dengan Alharis 2020. Jika saja Romi dan empat bupati lainnya merekomendasikan cawagub selain Abdullah Sani, kenyataan mungkin berkata lain.

Opini pengamat tentu tak sepenuhnya laras dengan pikiran Alharis. Sebagai orang ring satu dalam perjalanan politik HBA, Alharis pasti sadar betul bahwa tantangan Romi untuk Pilgub Jambi 2024 ini akan menguras sumberdaya. Alharis wajib cemas menerima kenyataan bahwa kekalahan trah HBA untuk kedua kali adalah keniscayaan***

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Opini

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.