Kabar18.com

Minggu, 20 September 2026

Opini Redaksi: Perpustakaan Publik Perlu Hadir dalam Agenda Digital

Akses internet perlu disertai ruang belajar dan pendampingan. Perpustakaan dapat membantu, dengan layanan yang diukur dari manfaat nyata bagi warga.

Redaksi Kabar18

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Arsip interior Toronto Reference Library, Kanada, 2022. Ilustrasi perpustakaan publik, bukan perpustakaan di Indonesia. Foto diperkecil otomatis oleh CMS.
Arsip interior Toronto Reference Library, Kanada, 2022. Ilustrasi perpustakaan publik, bukan perpustakaan di Indonesia. Foto diperkecil otomatis oleh CMS. · Foto: Canmenwalker / Wikimedia Commons / CC BY 4.0

OPINI REDAKSI — Perpustakaan publik patut ditempatkan dalam agenda pemerataan kemampuan digital. Warga membutuhkan tempat untuk belajar mencari informasi, menilai sumber, dan menggunakan layanan daring dengan lebih percaya diri.

Data International Telecommunication Union yang diterbitkan 17 November 2025 memperkirakan enam miliar penduduk dunia menggunakan internet, sementara 2,2 miliar lainnya masih belum terhubung. Laporan itu juga menyoroti kesenjangan keterjangkauan, kualitas koneksi, dan keterampilan. Ini merupakan angka global, bukan ukuran khusus kondisi Indonesia.

Manifesto Perpustakaan Publik IFLA-UNESCO 2022 menempatkan perpustakaan sebagai bagian penting pendidikan, kebudayaan, dan akses informasi. Prinsip tersebut relevan ketika layanan digital berkembang tetapi kemampuan penggunanya tidak seragam.

Menurut Redaksi Kabar18, penerapannya dapat dimulai melalui layanan yang sederhana: perangkat yang dapat dipakai bersama, jam pendampingan, dan panduan mengecek asal informasi. Pustakawan perlu memperoleh dukungan untuk membantu pengguna, bukan sekadar menerima tambahan perangkat.

Ukuran keberhasilan sebaiknya mencakup keterjangkauan jam layanan, keberlanjutan pendampingan, serta pengalaman warga menyelesaikan kebutuhan informasinya. Jumlah komputer saja belum menjelaskan apakah sebuah layanan benar-benar bermanfaat.

Usulan ini tidak mengandaikan semua perpustakaan memiliki kebutuhan identik. Pengelola perlu mendengar pengguna setempat dan menjaga privasi mereka. Pemerataan digital akan lebih berarti apabila warga memiliki kesempatan belajar yang dapat diakses berulang kali, termasuk ketika mereka belum terbiasa menggunakan teknologi.

Sumber: ITU Facts and Figures 2025 dan IFLA-UNESCO Public Library Manifesto 2022.

Foto: Canmenwalker, CC BY 4.0.

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.