Kabar18.com

Rabu, 14 Oktober 2026

Konflik Timur Tengah Tahan Harga Brent di Atas US$100

Brent tercatat US$105,52 per barel pada 13 Oktober 2026 setelah serangan terhadap bandara di Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi Timur Tengah.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Pompa angguk minyak bumi berdiri di lahan terbuka kering di bawah langit cerah.
Ilustrasi: Pompa angguk minyak bumi berdiri di lahan terbuka kering di bawah langit cerah. · Foto: Miguel Cuenca / Pexels

Riyadh — Harga minyak Brent berada di atas US$100 per barel pada 13 Oktober 2026 setelah sebelumnya melonjak hampir US$2 akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan energi di Timur Tengah.

Data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan Brent tercatat US$105,52 per barel pada 13 Oktober 2026 pukul 09.30 WIB, turun 1,06 persen dari penutupan sehari sebelumnya sebesar US$106,65 per barel. Kenaikan pada perdagangan sebelumnya dipicu serangan terhadap sebuah bandara di Arab Saudi yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi kawasan.

Ketegangan tersebut membuat pasar minyak tetap bergejolak. International Business Times melaporkan serangan terhadap bandara di Arab Saudi dan gangguan pelayaran di sekitar Selat Hormuz turut menjaga harga Brent di atas US$100 per barel. Laporan itu juga menyebut Badan Informasi Energi Amerika Serikat memperkirakan Brent rata-rata US$105 per barel pada kuartal IV 2026, terutama karena konflik di Timur Tengah.

Harga energi berisiko menekan biaya di Indonesia

Pergerakan minyak mentah dunia relevan bagi Indonesia karena perubahan harga energi dapat memengaruhi biaya transportasi dan logistik. Tekanan biaya tersebut berpotensi diteruskan ke harga barang serta memengaruhi inflasi dan nilai tukar rupiah, meskipun laporan yang tersedia tidak menyatakan besaran dampaknya.

Kontan melaporkan Brent berada di level US$105,14 per barel pada 13 Oktober 2026 pukul 20.32 WIB. Laporan itu mengaitkan eskalasi konflik dengan kekhawatiran defisit pasokan minyak global, setelah infrastruktur vital dan rute pelayaran strategis menjadi sasaran.

CNBC Indonesia menyebut pasar masih menghadapi ketidakpastian akibat berlanjutnya konflik Timur Tengah dan perkembangan perang Rusia-Ukraina. Selama risiko gangguan pasokan belum mereda, harga minyak dapat tetap sensitif terhadap serangan baru, keamanan jalur pelayaran, serta perubahan pasokan dari negara produsen.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Internasional

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.