Rupiah Menguat ke Rp18.082 di Tengah Harapan Damai Timur Tengah
Rupiah menguat 86 poin menjadi Rp18.082 per dolar AS pada 5 November 2026. Sentimen eksternal berasal dari hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat dan harapan perdamaian di Timur Tengah.
Oleh Kevin Mikael Januar
· 2 menit baca
Jakarta — Rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 5 November 2026, setelah Partai Demokrat Amerika Serikat memenangkan mayoritas di Kongres dan Senat serta muncul harapan perdamaian di Timur Tengah.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah menguat 86 poin atau 0,47 persen menjadi Rp18.082 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp18.168 per dolar AS. Pergerakan tersebut berlangsung ketika indeks dolar Amerika Serikat melemah dan pelaku pasar mencermati dampak hasil pemilihan paruh waktu di negara itu.
Dari sisi eksternal, investor memperhitungkan kemenangan telak Partai Demokrat dapat meningkatkan tekanan terhadap Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran. Ekspektasi itu dinilai dapat mendorong penyelesaian melalui negosiasi dan meningkatkan peluang de-eskalasi konflik.
Penurunan harga minyak mentah dunia turut menjadi sentimen positif bagi mata uang kawasan Asia. Harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan biaya impor energi Indonesia. Namun, laporan yang tersedia menyebut prospek terobosan diplomatik masih belum pasti; upaya mediasi Qatar antara Washington dan Teheran masih berlangsung, sementara kedua pihak disebut masih jauh dari kesepakatan.
Penguatan rupiah mencerminkan sentimen global dan domestik
Selain faktor eksternal, data ekonomi domestik ikut menopang rupiah. Pertumbuhan produk domestik bruto Indonesia pada kuartal III 2026 tercatat 5,47 persen secara tahunan, menurut laporan yang mengutip data ekonomi Indonesia. Sentimen positif tersebut berpadu dengan pelemahan dolar Amerika Serikat dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Bagi pembaca di Indonesia, perubahan nilai tukar dan harga minyak berpengaruh terhadap biaya impor energi serta kondisi pasar keuangan. Perkembangan politik Amerika Serikat juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan arah konflik Amerika Serikat-Iran dan kemungkinan dampaknya terhadap pasokan minyak global.
Untuk perdagangan Jumat, 6 November 2026, seorang analis memperkirakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen pascapemilihan paruh waktu Amerika Serikat, harga minyak mentah, data ekonomi Indonesia, dan antisipasi data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Ia memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.000–Rp18.050 per dolar AS.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
IHSG Berbalik Menguat ke 4.919 di Jakarta
IHSG ditutup menguat 0,32% ke level 4.919 di Jakarta pada 4 November 2026. Penguatan terjadi saat rupiah melemah menjadi Rp 18.155 per Dolar AS.
Terbaru di Internasional

Berita utama hari ini

Baca juga




