Kabar18.com

Rabu, 7 Oktober 2026

Mengapa Transaksi Berjalan Indonesia Defisit US$1,5 Miliar pada 2025?

Defisit transaksi berjalan Indonesia pada 2025 menyusut dibanding 2024. Memahami komponennya membantu membedakan surplus perdagangan dari ketahanan neraca pembayaran secara keseluruhan.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Dermaga pelabuhan peti kemas dengan derek jangkung dan kapal kargo di perairan.
Ilustrasi: Dermaga pelabuhan peti kemas dengan derek jangkung dan kapal kargo di perairan. · Foto: Rafael Rodrigues / Pexels

Transaksi berjalan adalah catatan arus barang, jasa, pendapatan primer, dan pendapatan sekunder Indonesia dengan negara lain. Pada 2025, Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sebesar US$1,5 miliar atau 0,1 persen dari PDB. Angka ini menunjukkan kebutuhan pembiayaan eksternal yang relatif terbatas, bukan berarti seluruh neraca pembayaran mengalami surplus.

Apa arti defisit transaksi berjalan?

Defisit terjadi ketika pembayaran Indonesia kepada luar negeri dalam komponen transaksi berjalan lebih besar daripada penerimaannya. Bank Indonesia menjelaskan bahwa transaksi berjalan mencakup neraca barang, jasa, pendapatan primer, dan pendapatan sekunder.

Defisit transaksi berjalan tidak sama dengan defisit perdagangan. Neraca barang dapat surplus, tetapi surplus itu bisa terimbangi oleh defisit jasa atau pendapatan primer, seperti pembayaran imbal hasil kepada investor dari luar negeri.

Bagaimana posisi Indonesia pada 2025?

Menurut Bank Indonesia dalam laporan Neraca Pembayaran Indonesia yang terbit 20 Februari 2026, transaksi berjalan 2025 defisit US$1,5 miliar atau 0,1 persen dari PDB. Pada 2024, defisitnya US$8,6 miliar atau 0,6 persen dari PDB, menurut laporan yang sama.

Perbaikan tahunan itu terutama ditopang kenaikan surplus neraca perdagangan barang dan peningkatan surplus pendapatan sekunder. Namun, pelebaran defisit neraca jasa dan pendapatan primer menahan perbaikan tersebut, menurut Bank Indonesia.

Mengapa angka tahunan bisa berbeda dari angka kuartalan?

Pergerakan transaksi berjalan berubah mengikuti ekspor, impor, pembayaran jasa, pendapatan investasi, dan penerimaan dari luar negeri pada tiap periode. Pada triwulan III 2025, transaksi berjalan mencatat surplus US$4,0 miliar atau 1,1 persen dari PDB, menurut Bank Indonesia.

Pada triwulan IV 2025, posisinya kembali menjadi defisit US$2,5 miliar atau 0,7 persen dari PDB. Karena itu, surplus satu kuartal tidak otomatis berarti posisi tahunan surplus.

Apakah defisit kecil berarti neraca pembayaran aman?

Tidak otomatis. Neraca pembayaran juga mencatat transaksi modal dan finansial. Bank Indonesia melaporkan transaksi modal dan finansial 2025 defisit US$4,2 miliar, antara lain dipengaruhi keluarnya aliran modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya.

Penilaian ketahanan eksternal perlu melihat beberapa komponen sekaligus: transaksi berjalan, arus modal, cadangan devisa, serta kemampuan ekonomi membiayai kewajiban kepada luar negeri. Defisit transaksi berjalan yang rendah membantu, tetapi tidak menghapus risiko perubahan arus modal global.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.