Kabar18.com

Minggu, 27 September 2026

Akamai Peringatkan Risiko Siber dari Agen AI Otonom

Akamai memperingatkan perusahaan bahwa agen AI otonom memperluas risiko siber melalui penggunaan internal, integrasi cloud, dan serangan berbasis AI.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Sebuah monitor komputer di atas troli kerja dekat deretan rak server pusat data.
Ilustrasi: Sebuah monitor komputer di atas troli kerja dekat deretan rak server pusat data. · Foto: Brett Sayles / Pexels

Jakarta — Akamai memperingatkan perusahaan tentang risiko keamanan siber baru dari agen kecerdasan buatan (AI) yang dapat menjalankan tugas secara otonom pada 27 September 2026. Peringatan itu disampaikan dalam laporan keamanan Akamai yang dikutip Liputan6 dan sejumlah laporan teknologi lain.

Agen AI kini dapat beroperasi di berbagai antarmuka pemrograman aplikasi (API) dan sistem digital. Kemampuan tersebut membuat pengamanan tidak lagi hanya berfokus pada identitas pengguna manusia, tetapi juga pada entitas nonmanusia yang dapat bertindak mandiri.

Laporan Akamai menyebut dua tantangan utama. Organisasi perlu menetapkan batas tindakan bagi agen otonom, sementara model AI dapat menemukan dan menghubungkan kerentanan dengan kecepatan yang melampaui siklus pembaruan keamanan manual.

Mengapa risiko agen AI penting bagi perusahaan

Risiko ini relevan bagi perusahaan di Indonesia karena penggunaan AI berlangsung di lingkungan kerja, layanan yang berhadapan langsung dengan pelanggan, serta beban kerja komputasi awan. Akamai menggambarkan tiga sumber ancaman: penggunaan AI secara internal, integrasi AI dengan produk dan beban kerja cloud, serta serangan yang digerakkan AI terhadap perusahaan.

Laporan tersebut juga menyoroti celah visibilitas pada Model Context Protocol (MCP), protokol yang memungkinkan agen AI berinteraksi dengan beberapa sistem perangkat lunak. Meskipun berperan dalam aktivitas otonom, paparan MCP disebut masih menjadi salah satu prioritas keamanan yang rendah bagi para pemimpin keamanan.

Risiko lain muncul dari aplikasi AI yang tidak dipantau dan ekstensi peramban berbasis AI. Akamai menyebut lebih dari 6% percakapan chatbot AI perusahaan memuat data sensitif, sedangkan 47% interaksi berlangsung melalui akun pribadi yang tidak dipantau. Lebih dari 40% pengguna perusahaan memasang ekstensi peramban berbasis AI, dan 25% ekstensi tersebut mengubah izin dalam 12 bulan.

Akamai merekomendasikan tata kelola adaptif di lapisan edge, penguatan pengendalian ekstensi peramban dan model yang di-host di web, serta perlindungan data perusahaan dari perayap AI. Tingkat otonomi agen juga perlu disesuaikan dengan kemampuan organisasi untuk memverifikasi dan membalikkan tindakannya.

Untuk tindakan berisiko tinggi, laporan itu mempertahankan perlunya pengawasan manusia. Para pemimpin keamanan memperkirakan agen AI yang tidak terkendali dapat menjadi ancaman siber utama pada 2030.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Terbaru di Teknologi

  2. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.