Stella Christie Paparkan Dampak AI terhadap Cara Berpikir di Jakarta
Stella Christie memaparkan riset yang membedakan AI sebagai pemberi jawaban dan tutor belajar. Dampaknya berbeda ketika kemampuan pengguna diuji tanpa AI.
Oleh Kevin Mikael Januar
· 2 menit baca
Jakarta — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie memaparkan sejumlah riset tentang dampak penggunaan kecerdasan artifisial (AI) terhadap kemampuan berpikir dan belajar pada 5 November 2026. Ia membedakan AI yang dipakai untuk memperoleh jawaban langsung dari AI yang digunakan sebagai tutor belajar.
Dalam paparan yang dikutip pada Kamis, 5 November 2026, Stella menyebut penelitian Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang membandingkan pengguna AI setiap hari dengan orang yang jarang atau hampir tidak pernah menggunakannya. Kelompok yang jarang atau hampir tidak pernah menggunakan AI memiliki skor sains lebih tinggi.
Riset lain membandingkan tiga pola belajar: tanpa AI, memakai AI untuk memperoleh jawaban langsung, dan menjadikan AI sebagai tutor. Waktu belajar meningkat 48 persen pada pengguna AI sebagai mesin jawaban dan 127 persen pada pengguna AI sebagai tutor. Namun, ketika diuji tanpa AI, kelompok yang memakai AI sebagai tutor memperoleh hasil setara dengan kelompok tanpa AI, sedangkan kelompok yang memakai AI untuk mendapatkan jawaban langsung mengalami penurunan 17 persen.
Stella juga memaparkan penelitian terhadap kemampuan dokter mendiagnosis lesi pra-kanker. Setelah menggunakan AI selama tiga bulan, kemampuan diagnosis turun dari 28,4 persen menjadi 22,4 persen.
Penggunaan AI menentukan dampaknya bagi pembelajaran
Temuan tersebut menunjukkan bahwa cara menggunakan AI menjadi faktor penting dalam proses belajar. AI yang menggantikan kegiatan membaca, menulis, menghitung, memecahkan masalah, atau menyusun informasi dapat mengurangi latihan kognitif yang diperlukan untuk membangun kemampuan berpikir.
Sebaliknya, AI dapat ditempatkan sebagai tutor atau sarana diskusi agar pengguna tetap mengajukan pertanyaan, membandingkan informasi, menjelaskan alasan, dan mengevaluasi hasil. Dalam konteks pendidikan Indonesia, pembedaan ini relevan bagi peserta didik, guru, perguruan tinggi, serta keluarga yang sedang menyesuaikan pembelajaran dengan teknologi AI.
Stella menekankan bahwa kemampuan berpikir perlu dilatih secara konsisten, seperti otot. Karena itu, pemanfaatan AI tidak diarahkan untuk menggantikan proses belajar mandiri, melainkan mendukung keterlibatan pengguna dalam memahami dan mengolah informasi.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
IHSG Menguat 2,83 Persen ke Level 5.059 di Jakarta
IHSG dibuka naik 139,28 poin atau 2,83 persen ke level 5.059 di Jakarta pada Kamis, 5 November 2026. Sebanyak 510 saham menguat pada awal perdagangan.
Terbaru di Teknologi

Berita utama hari ini

Baca juga


