Berakhirnya Dinasti PAN di Tanjabtim "Dosa Bakri dan Zola" ee Terendong Juga Mbak Putri Zulhas ...?
· 6 menit baca
KABAR18.COM - Kekalahan Partai Amanat Nasional (PAN) di pilkada Kabupaten Tanjung Jabung Timur 2024 jelas pukulan telak dan memalukan. Kekalahan ini karena lemahnya kalkulasi para elit PAN pasca tak lagi dikendalikan Romi Hariyanto yang dilucuti paksa dari ketua DPD PAN Tanjabtim beberapa waktu lalu.
Sepanjang sejarah berdirinya Kabupaten Tanjung Jabung Timur sejak 1999 eksistensi PAN tak permah goyah. Baik pemilu legislatif maupun pemilihan kepala daerah.
PAN selalu menang. Dimulai pemilihan bupati masih oleh DPRD pada 2 April 2001, dilanjutkan pileg 2004 dengan raihan 13 kursi dari total 30 kursi DPRD. Diteruskan pileg 2009 dengan 12 kursi, pileg 2014 - 15 kursi. Lalu dilanjutkan pileg 2019 dimana PAN yang dikomandoi Romi Hariyanto mencapai puncak tertinggi dengan kemenangan 17 kursi DPRD meski kemudian di pileg 2024 harus kehilangan dua kursi kembali menjadi 15 kursi.
Pun sejak pikada langsung, PAN Tabjabtim tak sekalipun kalah. Pada 2005 PAN kembali menang saat mengusung Abdullah Hich - Muhammad Juber. Pada 2011 menang lagi saat mengusung Zumi Zola - Ambo Tang. Pada 2015 lagi - lagi PAN unggul mengusung Romi Hariyanto - Robby Nahliyansyah. Di Pilkada 2020 PAN masih menang karena mendukung Romi - Robby untuk periode ke-2.
Tapi sayang, PAN yang menguasi 50 persen suara pemilih dan dikenal sebagai partai yang mesra dengan pemerintahan setempat tumbang dengan hasil yang sangat terpuruk sepanjang masa kejayaan PAN. Zumi Laza - Muhammad Aris kalah telak dari Dillah Hikmah Sari - Muslimin Tanja dengan angka mendekati 60:40.
Kekalahan yang menampar keras para elit PAN termasuk ketua DPW PAN Jambi Bakri dan ketua umum Zulkifli Hasan yang abai terhadap aspirasi kader yang sesungguhnya telah lama didengungkan.
Nyaring terdengar suara arus bawah menginginkan kadernya Dillah Hikmah Sari. Delapan Ketua DPC dan 83 Ketua DPRt berikrar siap memenangkan Dillah Hikmah Sari pada 15 Juni 2024, jauh sebelum tahapan KPUD berjalan. Namun PAN tak menggubris. Lebih memilih mengusung Zumi Laza - Muhammad Aris yang akhirnya kandas.
Bakri, Ketua DPW PAN Jambi disebut sebagai orang yang paling ngotot untuk mengusung Zumi Laza di tambah lobbi Zumi Zola, calon menantu Ketum PAN, Zulkifli Hasan ini. Tanpa melihat prestasi dan rekam jejak masa lalu Zumi Laza.
Menurut salah seorang inisiator PAN Provinsi Jambi, Nasroel Yasier warga Tanjabtim sangat memahami karakter Zumi Laza itu. Dia hanya memanfaatkan trah Nurdin Hamzah untuk berkuasa. Dan Partai PAN pasti akan mendukungnya.
"Coba perhatikan Zumi Laza hanya ke Jambi kalau ada hajatan Pilkada sekaligus mau memimpin partai. Ketika kalah dia kabur lagi. Dulu begitu ketika di daulat jadi Ketua PAN Kota, lalu dia kabur ke Jakarta," jelas Nasroel mantan wartawan ini.
Kabarnya Bakri ingin membuktikan bahwa Romi Hariyanto tak se pengaruh apa yang selama ini digaungkan. Hal itu diperkuat dengan pemecatan Romi dari ketua DPD Tanjabtim yang langsung diganti dengan Zumi Laza.
Kalkulasinya; Romi sibuk nyagub, PAN sudah 50 persen tinggal cari sedikit tambahan. Tinggal pasang jurus ancaman: siapa tak mendukung calon PAN siap - siap PAW. Ternyata kalkulasi itu jauh dari presisi.
Ada kabar tak sedap soal isu PAW di tubuh PAN Tanjabtiim. Ancaman itu disebut cukup efektif membuat setiap anggota dewan bekerja keras memenangkan Zumi Laza - Muhammad Aris. Namun sayang, ancaman PAW itu juga dibumbui aroma transaksional.
Indarto sebagai anggota dewan hasil PAW Muhammad Aris yang maju sebagai calon Wakil Zumi Laza harus membayar besar karena PAN butuh logistik memenangkan Laris, singkatan Laza - Muhammad Aris.
Indarto bahkan harus menggadaikan SK keanggotaannya senilai Rp 400 juta. Indarto dan Muhammad Aris berada di daerah pemilihan Tanjabtim I saat pileg lalu. Indarto gagal meraih kursi terakhir DPRD Tanjabtim Dapil I.
Berbeda dengan Indarto, peraih suara terbanyak ke-6 daerah pemilihan Tanjabtim II Musabaqoh diimingi akan mendapatkan kursi PAW dari Sulpani rekan sedapilnya.
Sulpani dipastikan PAW asal Musabaqoh mau membayar sejumlah uang dan bekerja keras memenangkan Laris di Rantaurasau, tempat domisilinya. Musabaqah menyanggupi lantaran Wahyu Hidayat suaminya adalah kepala Desa Rantaurasau II.
Bukan hanya Sulpani, PAW juga sedang menghantui anggota dewan PAN lainnya. Sedikitnya ada enam anggota dewan PAN yang ketar - ketir. Ada Sri Astuti asal Mendaharaulu yang kalah telak saat penghitungan suara hasil Pilkada tuntas. Tuti akan diganti dengan Harmah. Lalu Jamil Akbar yang disebut akan diganti Reza Fahlevi.
Sumber internal PAN menyebut PAW akan dimulai dari Sulpani. Pasalnya, di Rantaurasau yang merupakan basis suara Sulpani, Laris menang. Memang dari 11 Kecamatan hanya Rantaurasau lah satu - satunya Kecamatan Laris menang.
Mem PAW yang menang itu strategi agar yang kalah semakin takut. “Pani yang berhasil memenangkan Laris saja di PAW apalagi yang kalah. Kawan - kawan di internal bilang bahwa ini strategi Bakri dan Zola untuk menguras kawan - kawan dewan. Kasihan kawan - kawan dewan betul - betul tak berdaya,” kata sumber tersebut.
Sumber itu juga menyebut bahwa para anggota dewan itu bak sapi perahan. Mereka terus dimintai sumbangan sejak PAN menetapkan Laza - Aris sebagai bakal calon yang diusung.
“Hampir semua biaya sosialisasi, acara - acara, sampai konsumsi dan sewa kendaraan semua sumbangan anggota dewan padahal mereka baru saja habis pileg. Sekarang semua tinggal hutang,” ucapnya prihatin.
Menurutnya kekalahan Zumi Laza - Muhammad Aris di Pilkada Tanjabtim sebetulnya cukup diharapkan sebagian besar anggota dewan PAN. “Mereka sebetulnya senang juga Laris ini kalah supaya mereka tak lagi jadi sapi perahan dan mereka berharap segera ada pembenahan di internal DPD PAN agar kembali solid seperti masih dipegang Romi Hariyanto,” tutupnya.
Mahrup, politisi senior yang 25 tahun turut membesarkan PAN menyebut
kebijakan elit PAN abai pada aspirasi arus bawah. “Sehingga hampir semua pengurus partai justru ikut membela dan berjuang bersama kader - kader terbaik yang ikut pilkada tapi tidak diusung PAN,” kata Mahrup sebagaimana ia tulis di laman Facebooknya.
Mahrup berharap DPP PAN mau mengevaluasi kinerja PAN Tanjabtim. Momentum kekalahan PAN di dua basis yakni Tanjabtim dan Muarojambi harusnya menjadi perhatian serius untuk masa depan partai.
Agung Hidayat, peneliti dari lembaga Sigma Idea Indoensia menyebut PAN sedang menghadapi masa kelam khususnya di basis potensial seperti Muarojambi dan Tanjabtim. Agung melihat gaya komunikasi yang arogan adalah kesalahan fatal. “Masyarakat sekarang lebih mendengar pendekatan humanis. Pola - pola arogan sudah tidak lagi efektif. Kita lihat saja hasil - hasil Pilkada ini, pendekatan humanis jauh lebih jitu memenangkan hati rakyat,” kata Agung.
Agung menyoroti PAW terhadap Sulpani kader potensial PAN di Tanjabtim. Menurut Agung jika PAW itu benar - benar terlaksana akan ada konsekwensi besar yang dihadapi PAN di basisnya itu.
“Logika sederhananya siapa lagi nanti yang mau jadi caleg kalau pejuang partai yang berhasil meraih suara terbanyak saja bisa di PAW dengan pasal pelanggaran yang saya dengar masih sangat layak diperdebatkan,” Agung menambahkan.
Namun Agung tak mau berspekulasi lebih jauh soal sebab PAW Sulpani. “Kita tidak tahu apakah ada kesalahan fatal sehingga layak di PAW, saya kira partai sebesar PAN akan cukup objektif dalam membuat keputusan,” ujarnya. ***
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Terbaru di Politik

Berita utama hari ini

Baca juga





