Kabar18.com

Senin, 5 Oktober 2026

Ekonomi Indonesia Memasuki Kuartal IV dengan Manufaktur Ekspansif

Pemerintah menyebut ekonomi Indonesia memasuki kuartal IV 2026 dengan inflasi tahunan 3,28 persen dan surplus perdagangan 7,25 miliar dolar AS. PMI manufaktur kembali ekspansif pada 52,4.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Lorong pejalan kaki di dalam pabrik industri dengan ban berjalan dan tiang beton.
Ilustrasi: Lorong pejalan kaki di dalam pabrik industri dengan ban berjalan dan tiang beton. · Foto: Yetkin Ağaç / Pexels

Jakarta — Pemerintah menyebut perekonomian Indonesia memasuki kuartal IV 2026 dengan inflasi September sebesar 3,28 persen secara tahunan, surplus perdagangan Januari–Agustus sebesar 7,25 miliar dolar AS, dan PMI Manufaktur September sebesar 52,4.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan inflasi tersebut masih berada dalam sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen. Inflasi inti tercatat 2,84 persen secara tahunan, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,25 persen secara tahunan.

Tekanan terbesar datang dari komponen volatile food atau pangan bergejolak yang mengalami inflasi 5,03 persen secara tahunan. Pemerintah mengaitkannya dengan dinamika permintaan dan penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.

Manufaktur ekspansif menopang ekonomi Indonesia

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global meningkat menjadi 52,4 pada September 2026 dari 49,8 pada Agustus 2026. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali berada di zona ekspansi.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif 7,25 miliar dolar AS sepanjang Januari–Agustus 2026. Kinerja tersebut menjadi salah satu indikator yang disebut pemerintah ketika menggambarkan kondisi ekonomi nasional pada awal kuartal IV.

Data tersebut menunjukkan tiga perkembangan yang menjadi perhatian pembaca nasional: inflasi umum masih berada dalam sasaran, perdagangan tetap surplus, dan aktivitas manufaktur kembali berekspansi. Pada saat yang sama, inflasi pangan tetap menjadi risiko karena dipengaruhi pasokan komoditas, cuaca ekstrem, El Nino, serta bencana alam.

PMI September juga meningkat dari posisi 49,8 pada Agustus, sehingga perbaikan aktivitas manufaktur berlangsung bersamaan dengan penguatan indikator perdagangan. Pemerintah menempatkan stabilitas harga dan ketahanan pangan sebagai bagian penting dari pemantauan ekonomi memasuki kuartal IV 2026.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.