Kabar18.com

Rabu, 23 September 2026

Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Bisa Berbeda?

Angka kemiskinan Indonesia bergantung pada garis ukur. BPS mencatat 8,47 persen penduduk miskin pada Maret 2025, sementara Bank Dunia memakai garis internasional untuk membaca kerentanan yang lebih luas.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Pemandangan udara lanskap perkotaan dengan gedung bertingkat dan permukiman saat matahari terbenam.
Ilustrasi: Pemandangan udara lanskap perkotaan dengan gedung bertingkat dan permukiman saat matahari terbenam. · Foto: Tom Fisk / Pexels

Kemiskinan Indonesia tidak memiliki satu angka yang berlaku untuk semua kebutuhan analisis. Menurut BPS, pada Maret 2025 persentase penduduk miskin mencapai 8,47 persen atau 23,85 juta orang. Bank Dunia mencatat angka resmi itu sekitar 8,5 persen, tetapi memakai garis kemiskinan internasional untuk menunjukkan cakupan yang berbeda.

Apa arti angka kemiskinan 8,47 persen?

Angka tersebut adalah proporsi penduduk yang pengeluaran per kapitanya berada di bawah garis kemiskinan nasional. BPS merilis hasil itu dari Survei Sosial Ekonomi Nasional atau Susenas Maret 2025.

Menurut BPS, jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 adalah 23,85 juta orang. Angka itu lebih rendah dibandingkan 8,57 persen pada September 2024, tetapi ukuran tersebut tetap menggambarkan kondisi pada periode survei, bukan pendapatan setiap orang sepanjang tahun.

Bagaimana BPS menentukan seseorang miskin?

Bank Dunia menjelaskan bahwa garis kemiskinan Indonesia ditetapkan BPS berdasarkan kebutuhan memperoleh 2.100 kilokalori per hari, ditambah kebutuhan dasar nonmakanan. Garis itu berbeda menurut wilayah perkotaan dan perdesaan di setiap provinsi.

Menurut Bank Dunia, Indonesia memiliki 67 garis kemiskinan lokal untuk wilayah perkotaan dan perdesaan di provinsi-provinsi di luar Jakarta. Angka nasional kemudian dihitung sebagai rata-rata tertimbang berdasarkan jumlah penduduk dari garis-garis lokal tersebut.

Mengapa angka Indonesia dan Bank Dunia bisa berbeda?

Perbedaan muncul karena garis kemiskinan menjawab pertanyaan yang berbeda. Untuk kebijakan nasional Indonesia, Bank Dunia menyebut garis kemiskinan dan statistik resmi BPS sebagai ukuran yang paling sesuai.

Bank Dunia juga menggunakan garis kemiskinan internasional. Dalam pembaruan Juni 2025, garis kemiskinan ekstrem ditetapkan sebesar US$3 per hari, setara sekitar Rp546.400 per orang per bulan setelah memperhitungkan biaya hidup Indonesia; garis untuk negara berpendapatan menengah bawah sebesar US$4,20 per hari atau sekitar Rp765.000 per orang per bulan; dan garis negara berpendapatan menengah atas sebesar US$8,30 per hari atau sekitar Rp1.512.000 per orang per bulan.

Apakah penurunan persentase berarti semua rumah tangga sudah aman?

Tidak otomatis. Penurunan dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,47 persen pada Maret 2025 menunjukkan lebih sedikit penduduk berada di bawah garis kemiskinan nasional menurut survei BPS, tetapi tidak mengukur seluruh kerentanan ekonomi.

Bank Dunia mencatat bahwa pada 2024, 5,4 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan ekstrem internasional, 19,9 persen berada di bawah garis negara berpendapatan menengah bawah, dan 68,3 persen berada di bawah garis negara berpendapatan menengah atas. Angka-angka itu tidak dapat dibandingkan langsung dengan angka resmi BPS karena garis ukurnya berbeda.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.