Kabar18.com

Sabtu, 3 Oktober 2026

PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi pada September 2026

PMI Manufaktur Indonesia naik menjadi 52,4 pada September 2026 dari 49,8 pada Agustus. Kenaikan didukung pesanan baru, produksi, dan permintaan ekspor.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Lorong lantai pabrik industri dengan pagar pengaman dan mesin konveyor di sampingnya.
Ilustrasi: Lorong lantai pabrik industri dengan pagar pengaman dan mesin konveyor di sampingnya. · Foto: Yetkin Ağaç / Pexels

Jakarta — PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 tercatat 52,4, naik dari 49,8 pada Agustus 2026.

Indeks di atas 50 menandai ekspansi aktivitas manufaktur. Angka September menjadi level tertinggi dalam tujuh bulan atau sejak Februari 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan perbaikan kondisi bisnis manufaktur setelah sektor ini kembali mengalami kontraksi pada Agustus.

Perbaikan PMI didukung meningkatnya pesanan baru dan produksi. Pesanan ekspor baru juga bertambah selama dua bulan berturut-turut, dengan laju pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022. Produsen menambah pekerja pada laju tercepat sejak Februari 2025, sementara pesanan yang belum terselesaikan meningkat paling tajam dalam lima tahun.

Mengapa PMI manufaktur penting bagi pembaca

PMI memberi gambaran mengenai arah aktivitas perusahaan manufaktur dari bulan ke bulan. Bagi pembaca di Indonesia, kembalinya indeks ke zona ekspansi dapat menjadi informasi tentang pergerakan permintaan, produksi, ekspor, dan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri.

Namun, pemulihan belum merata di seluruh subsektor. Kamar Dagang dan Industri Indonesia menilai satu bulan ekspansi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh industri telah memasuki fase ekspansi yang kuat dan berkelanjutan.

Tekanan biaya tetap menjadi perhatian. Kenaikan biaya logistik dan bahan bakar dapat menghambat laju aktivitas, meskipun permintaan domestik dan ekspor menguat. Keberlanjutan perbaikan karena itu masih bergantung pada permintaan serta kondisi biaya dan kebijakan ekonomi.

Kenaikan harga bahan baku dan harga jual melambat ke level terendah dalam enam bulan. Kondisi tersebut memberi ruang bagi produsen untuk meningkatkan pembelian bahan baku, tetapi kapasitas produksi tetap menghadapi tekanan akibat bertambahnya pesanan yang belum terselesaikan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Terbaru di Analisis

  2. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.