Kabar18.com

Selasa, 13 Oktober 2026

Yusuf Wibisono Soroti Downgrade Lifestyle Kelas Menengah Indonesia

Ekonom Yusuf Wibisono mengaitkan downgrade lifestyle dengan tekanan daya beli kelas menengah. Warga menghemat pengeluaran dengan memilih produk lebih murah dan menjual kendaraan.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Sebuah troli belanja kosong berdiri di atas trotoar berubin.
Ilustrasi: Sebuah troli belanja kosong berdiri di atas trotoar berubin. · Foto: Paul Seling / Pexels

Jakarta — Ekonom sekaligus Direktur Next Policy Yusuf Wibisono menilai fenomena penurunan standar gaya hidup yang dibahas masyarakat pada 12 Oktober 2026 berkaitan dengan tekanan daya beli, terutama pada kelompok kelas menengah di Indonesia.

Fenomena tersebut terlihat dari pengalaman warga yang mengganti produk bermerek dengan merek lebih murah, menjual kendaraan, serta menerima pekerjaan dengan gaji lebih rendah. Yusuf mengatakan tekanan daya beli tidak hanya dialami masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi semakin terasa pada kelompok kelas menengah.

Ia menyebut pelemahan daya beli tercermin dari pusat perbelanjaan yang sepi atau tutup, mal yang ramai pengunjung tetapi sepi transaksi, dan penurunan omzet pasar tradisional. Menurut Yusuf, kelas menengah menurunkan standar gaya hidup untuk menghemat pengeluaran, meski kondisi itu belum membuktikan terjadinya kontraksi konsumsi nasional.

Tekanan kelas menengah berpengaruh pada konsumsi

Yusuf mencatat jumlah penduduk kelas menengah turun dari 60,8 juta orang atau 23% populasi pada 2018 menjadi 46,7 juta orang atau 16,6% pada 2025. Ia menilai kelompok ini berperan penting dalam menopang konsumsi dan pertumbuhan ekonomi karena memiliki kemampuan membeli barang dan jasa di luar kebutuhan dasar.

Ketika daya beli kelas menengah melemah, rumah tangga cenderung mengutamakan fungsi dibandingkan gengsi. Perubahan itu dapat berupa memilih produk yang lebih murah, mengurangi belanja, atau melepas kendaraan untuk menekan beban pengeluaran.

Republika juga melaporkan penilaian Yusuf bahwa fenomena downgrading menunjukkan kelas menengah lebih mengutamakan fungsi daripada gengsi. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menyebut downgrading dapat menjadi strategi taktis rumah tangga untuk mempertahankan ketahanan keuangan, walaupun tidak otomatis membuktikan pelemahan konsumsi secara keseluruhan.

Yusuf mengingatkan pelemahan kelas menengah perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi konsumsi dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Terbaru di Gaya Hidup

  2. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.