Kabar18.com

Jumat, 23 Oktober 2026

Mengapa Pekerja Muda Kota Mengurangi Belanja Gaya Hidup

Pekerja muda kelas menengah di kota-kota Indonesia mengurangi belanja nonpokok karena kenaikan harga dan pendapatan yang stagnan. Penghematan belum otomatis memperbesar tabungan.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Seseorang sedang menyantap makanan dari kotak bekal di atas meja kayu.
Ilustrasi: Seseorang sedang menyantap makanan dari kotak bekal di atas meja kayu. · Foto: Katerina Holmes / Pexels

Jakarta — Pekerja muda kelas menengah di perkotaan Indonesia mengurangi belanja gaya hidup ketika harga meningkat dan pendapatan tidak bertambah, menurut laporan pada Oktober 2026.

Perubahan itu terlihat dari pilihan barang dan kebiasaan konsumsi sehari-hari. Khansa Nabilah, 28 tahun, yang tinggal di Sleman, Yogyakarta, membeli kosmetik yang lebih murah. Rata-rata pengeluaran kosmetiknya turun dari Rp200.000 menjadi kurang dari Rp100.000 per bulan setelah kehilangan pekerjaan pada akhir 2025.

Khansa juga mengurangi anggaran belanja rumah tangga, lebih sering membeli ayam atau telur daripada daging sapi, serta mengurangi makan di luar. Lika Wakhid, pekerja perusahaan swasta di Jakarta Timur, membawa bekal dari rumah dan lebih jarang bepergian untuk berlibur.

Fenomena tersebut dikenal sebagai downgrade lifestyle, yakni penurunan standar konsumsi secara sukarela atau karena keadaan. Laporan Radio Republik Indonesia menyebut pelemahan daya beli mendorong sebagian masyarakat memilih produk lebih murah, mengurangi belanja, dan memangkas kegiatan rekreasi. Ekonom Yusuf menilai perubahan konsumsi menunjukkan sebagian rumah tangga menghadapi keterbatasan pendapatan.

Mengapa perubahan konsumsi penting bagi pembaca

Perubahan perilaku pekerja muda memberi gambaran tentang tekanan biaya hidup yang tidak selalu tercermin dari pertumbuhan ekonomi. Ketika kebutuhan pokok tetap harus dipenuhi, penghematan biasanya dialihkan dari kosmetik, makan di luar, perjalanan, dan barang berkualitas lebih tinggi. Namun, pengurangan belanja tidak otomatis membuat rumah tangga lebih aman secara finansial.

Laporan Tempo menyebut Khansa menilai pengurangan pengeluaran merupakan cara memastikan kebutuhan pokok tetap terpenuhi. Lika juga mengatakan empat bulan berhemat belum membuatnya merasa lebih aman secara keuangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa rumah tangga dapat mengurangi konsumsi tanpa memiliki ruang tabungan yang lebih besar.

Tekanan tersebut juga berkaitan dengan pekerjaan. Laporan RRI mengaitkan pelemahan daya beli kelas menengah dengan berkurangnya aktivitas sektor manufaktur yang mempekerjakan tenaga profesional. Kesempatan kerja yang lebih sedikit dapat memengaruhi pendapatan pekerja dan kemampuan rumah tangga mempertahankan pola konsumsi.

Survei Bank Indonesia pada September 2026 mencatat porsi pendapatan rumah tangga untuk konsumsi sebesar 74,9 persen, naik dari 74,2 persen pada bulan sebelumnya. Porsi tabungan turun dari 15,8 persen menjadi 15,4 persen. Angka itu menggambarkan ruang keuangan rumah tangga yang tertekan ketika kebutuhan konsumsi mengambil bagian lebih besar dari pendapatan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.