Kampanye Bahasa Isyarat di Palu Dorong Layanan Publik Lebih Inklusif
Gerkatin Sulawesi Tengah mengampanyekan bahasa isyarat di Palu untuk memperkuat hak komunikasi penyandang tuli. Pemerintah Kota Palu juga mendorong penggunaannya dalam pelayanan publik.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Palu — Kampanye bahasa isyarat di Kota Palu mendorong perhatian lebih besar terhadap hak komunikasi penyandang tuli serta kebutuhan layanan publik yang lebih inklusif. Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 26 September 2026, dalam rangkaian Pekan Tuli Internasional dan Hari Bahasa Isyarat Internasional.
Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia atau Gerkatin Sulawesi Tengah memperkenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat dalam kegiatan tersebut. Kampanye itu menempatkan bahasa isyarat sebagai sarana penting bagi penyandang tunarungu dan tunawicara untuk berkomunikasi secara setara.
Laporan Media Indonesia menunjukkan anggota Gerkatin Sulawesi Tengah terlibat langsung mengenalkan bahasa isyarat di Palu. Organisasi itu mengaitkan penggunaan bahasa isyarat dengan pemenuhan hak komunikasi, sehingga akses komunikasi tidak hanya menjadi urusan keluarga atau komunitas penyandang disabilitas.
Pada saat yang sama, laporan RRI menyebut Pemerintah Kota Palu mendorong penggunaan bahasa isyarat dalam pelayanan publik. Dorongan tersebut memperluas makna kampanye dari pengenalan kepada masyarakat menuju penerapan dalam interaksi warga dengan instansi pemerintah.
Penerapan bahasa isyarat dalam pelayanan publik dapat membantu warga tuli ketika mengurus dokumen, meminta informasi, atau mengakses layanan dasar. Dukungan praktis dapat berbentuk petugas yang memahami bahasa isyarat, penerjemah ketika diperlukan, informasi visual yang jelas, serta kanal layanan yang tidak bergantung pada komunikasi suara.
Langkah awal juga dapat dimulai dengan memetakan layanan yang paling sering digunakan warga dan situasi yang paling berisiko menimbulkan salah komunikasi. Dari sana, pemerintah dapat menentukan kebutuhan pelatihan, pendampingan, serta materi informasi yang mudah dipahami.
Kampanye di Palu memperlihatkan bahwa inklusi komunikasi memerlukan keterlibatan pemerintah, organisasi penyandang disabilitas, dan masyarakat. Masukan dari komunitas tuli penting agar bentuk layanan disusun berdasarkan hambatan yang benar-benar mereka hadapi.
Penggunaan bahasa isyarat di ruang publik juga membantu masyarakat memahami bahwa bahasa tersebut merupakan alat komunikasi sehari-hari. Semakin luas pengenalannya, semakin kecil kemungkinan warga tuli terhambat hanya karena layanan tidak menyediakan cara komunikasi yang sesuai.
Sumber
Baca berikutnya
Terbaru di Pemerintahan

PLN Jadwalkan Pemadaman Bergilir di Parepare 26 September
PT PLN ULP Mattirotasi menjadwalkan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah Parepare pada Sabtu, 26 September 2026. Gangguan berlangsung dalam beberapa…
Berita utama hari ini

Baca juga



