Kabar18.com

Kamis, 24 September 2026

Mengapa El Niño Memperpanjang Kekeringan di Indonesia?

BMKG mencatat 1.637 titik di 25 provinsi mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari. Bantul mencatat durasi terpanjang, yakni 131 hari, sementara 556 ZOM masih kemarau.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tampilan jarak dekat permukaan tanah liat berwarna cokelat kemerahan yang retak-retak akibat kekeringan.
Ilustrasi: Tampilan jarak dekat permukaan tanah liat berwarna cokelat kemerahan yang retak-retak akibat kekeringan. · Foto: Raymond Petrik / Pexels

Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan El Niño 2026 membuat 1.637 titik pengamatan di Indonesia mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari hingga 22 September 2026. Kondisi itu tersebar di 25 provinsi, dengan periode terpanjang 131 hari di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

BMKG mencatat 556 Zona Musim (ZOM), setara 61,91 persen luas daratan Indonesia, masih mengalami musim kemarau. Pemantauan tersebut menunjukkan kekeringan tidak hanya terjadi di wilayah yang secara klimatologis biasa memasuki kemarau, tetapi juga menjangkau sejumlah zona yang umumnya berciri basah sepanjang tahun.

Mengapa kekeringan ini penting bagi Indonesia?

Hari tanpa hujan yang berlangsung panjang dapat memperbesar tekanan terhadap ketersediaan air, terutama di wilayah yang memasuki kemarau. Bagi pembaca di daerah, informasi ini penting untuk memahami mengapa kebutuhan air rumah tangga, pertanian, dan aktivitas ekonomi dapat menghadapi risiko lebih besar selama periode kering.

BMKG menyebut El Niño dengan intensitas sangat kuat berdampak pada berkurangnya curah hujan. Kondisi tersebut diperkuat oleh pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) di sekitar Indonesia. Kombinasi kedua fenomena itu dapat memperpanjang kekeringan dan menunda awal musim hujan 2026–2027.

Dalam pemantauan BMKG, titik dengan hari tanpa hujan lebih dari 60 hari tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Kabupaten Bantul menjadi lokasi dengan catatan terpanjang, yakni 131 hari tanpa hujan. BMKG juga menyatakan awal musim hujan 2026–2027 di 529 ZOM atau 61,08 persen wilayah Indonesia diprakirakan mundur dari rata-rata klimatologis.

Data tersebut menggambarkan perbedaan antara luas wilayah yang masih mengalami kemarau dan wilayah yang diperkirakan mengalami keterlambatan awal musim hujan. Perkembangan curah hujan dan perubahan status musim tetap menjadi informasi penting bagi pengelolaan air serta kegiatan pertanian di daerah.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.