Kabar18.com

Senin, 28 September 2026

Nikel dari Tanah Terampas: Kriminalisasi Warga dan Pertarungan Kuasa Antar Korporasi di Halmahera

Maba Sangaji, yang dahulu menjadi pusat kehidupan adat dan keseimbangan alam, kini berubah menjadi arena benturan antara korporasi tambang.

Rilis pers, disunting Redaksi Kabar18

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi Konflik Perebutan Nikel di Halmahera Timur || Jatam
Ilustrasi Konflik Perebutan Nikel di Halmahera Timur || Jatam

KABAR18.COM — Maba Sangaji, yang dahulu menjadi pusat kehidupan adat dan keseimbangan alam, kini berubah menjadi arena benturan antara korporasi tambang, jaringan modal-politik, dan aparat negara.

Masuknya industri nikel telah mengusir warga dari ruang hidup mereka. Hutan adat digunduli, sungai utama tercemar lumpur merah, dan lahan pangan tradisional musnah.

Di balik janji manis hilirisasi, kenyataan yang terjadi justru adalah keruntuhan ekosistem dan lenyapnya sumber penghidupan. Para petani dan pengolah sagu kini kehilangan tanah, pekerjaan, bahkan harga diri.

Ketika warga memilih jalan protes damai, mereka justru dibalas dengan kriminalisasi penangkapan, intimidasi, hingga vonis penjara bagi para pejuang lingkungan.

Di sisi lain, korporasi saling menyerang melalui sengketa tumpang tindih izin, manipulasi tapal batas, dan laporan kepolisian.

Negara, yang seharusnya hadir melindungi rakyat, lebih sering absen bahkan berpihak pada kepentingan modal. 

Penderitaan warga dan kerusakan lingkungan diabaikan. Sengketa antara PT Position dan PT Wana Kencana Mineral menjadi potret telanjang kolusi antara modal dan negara, ketika hukum dan birokrasi berubah menjadi alat akumulasi dan represi.

Laporan ini bukan sekadar kumpulan data dan kronologi. Ia menghadirkan investigasi mendalam tentang jejak bisnis yang melintasi Jakarta–Bermuda–Beijing, jaringan politik dan militer yang mengunci kendali, serta “keajaiban” bagaimana ekosistem, sejarah, dan martabat orang Halmahera dikorbankan demi keuntungan segelintir elit.

Bacalah kisah ini, dan temukan cerita orang-orang biasa yang bertahan di tengah gempuran kekuasaan—menuntut hak atas air, tanah, dan masa depan yang kian terancam.

Jika keadilan harus diperjuangkan hari ini, maka suara dan perlawanan dari Maba Sangaji adalah titik awalnya.

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Lingkungan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.