Kabar18.com

Sabtu, 19 September 2026

Waduhhh...LGBT Serbu Indonesia, Ada Apa Gerangan...?

Reporter: BS

Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Sebuah acara LGBT di Bangkok, Thailand || Foto : Bangkok Post/ Aphicitt Jinakul
Sebuah acara LGBT di Bangkok, Thailand || Foto : Bangkok Post/ Aphicitt Jinakul

JAKARTA, KABAR18.COM - Para LGBT dari Negara Asean akan berkumpul di Jakarta dari tanggal 17 - 21 Juli 2023. Mereka akan mengelar Asean Queer Advocacy Week (AAW)

AAW merupakan wadah berkumpulnya para aktivis LGBTQ Asia Tenggara untuk saling terhubung serta memperkuat advokasi satu sama lain. Sementara sponsor utamanya adalah ASEAN SOGIE Caucus, organisasi di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2021, bersama Arus Pelangi dan Forum Asia.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Hilmy Muhammad mengatakan AAW menyimpang dari nilai-nilai ketimuran yang selama ini menjadi prinsip hidup masyarakat di Indonesia.

“Negara kita masih kuat memegang adat ketimuran, sementara LGBT jelas bertentangan dengan adat kita. Kami minta pihak-pihak terkait, dalam hal ini kementerian dan kepolisian, tidak memberikan izin maupun akses atas penyelenggaraan kegiatan tersebut, " ujar pria yang akrab disapa Gus Hilmy dalam keterangan tertulisnya, pada Senin (10/07/2023)

"Ini untuk menghindari kerusuhan sekaligus untuk menjaga moralitas bangsa dari hal-hal yang dapat merusaknya,” lanjut Gus Hilmy.

Gus Hilmy menambahkan organisasi-organisasi di bawah PBB telah memahami bagaimana prinsip-prinsip demokrasi, yakni di antaranya tidak memaksakan diri jika terjadi penolakan. Menghargai penolakan atas perbedaan prinsip ini menjadi bagian dari kehidupan demokrasi. 

"Jadi kalau masyarakat Indonesia menolak, kami harap ASEAN SOGIE Caucus di bawah PBB bisa menghargai prinsip ini karena berhubungan dengan kedaulatan bangsa dan bisa melukai hati masyarakat,” ujarnya.

Senator Indonesia asal DI Yogyakarta berpendapat penolakan ini tidak bersifat diskriminatif. Pasalnya, sejauh ini, negara memberikan kebebasan kepada setiap penduduknya untuk mengekspresikan diri. 

“Tidak ada diskrimasi sama sekali. Jangan hanya karena ditolak kemudian mengatakan yang bertentangan dengan kita itu antidemokrasi. Itu tidak benar. Prinsipnya, kita berhak membatasi apa saja dan siapa saja yang masuk ke dalam rumah kita, " katanya.****

Berita berikutnya

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.