Djoko Susanto Membangun Grup Alfamart dari Petojo Jakarta
Laporan 20 September 2026 mengulas perjalanan Djoko Susanto dari warung kelontong ibunya di Petojo, Jakarta, hingga membangun Grup Alfamart dengan lebih dari 23.000 toko.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Jakarta — Laporan pada 20 September 2026 memuat perjalanan Djoko Susanto dari warung kelontong sederhana milik ibunya di kawasan Petojo, Jakarta, hingga membangun Grup Alfamart.
Menurut laporan tersebut, Djoko mengawali perjalanan itu dengan membantu usaha keluarga. Sebelum membangun bisnis ritel, ia sempat bekerja sebagai pegawai di perusahaan perakitan radio, lalu kembali membantu warung ibunya pada 1960-an. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang menghubungkan usaha keluarga dengan perkembangan bisnis ritel.
Bisnis keluarga itu kemudian berkembang menjadi Grup Alfamart. Laporan CNBC Indonesia menyebut jaringan ritel tersebut memiliki lebih dari 23.000 toko di Indonesia, termasuk gerai yang dikelola anak usaha seperti Alfamidi dan Lawson. Jumlah itu menggambarkan skala jaringan yang dibangun dari titik awal berupa warung kelontong di Petojo.
Perjalanan Djoko menunjukkan perubahan usaha keluarga menjadi jaringan ritel nasional
Bagi pembaca, kisah ini memberi konteks tentang asal-usul salah satu jaringan ritel yang beroperasi di berbagai wilayah Indonesia. Titik awalnya adalah warung kelontong di Petojo, sementara perkembangan usahanya mencakup Alfamart serta jaringan yang dikelola anak usaha. Perjalanan tersebut dibahas dalam laporan 20 September 2026.
Laporan itu juga menyebut nama asli Djoko Susanto adalah Kwok Kwie Fo. Informasi tersebut melengkapi profil tokoh yang perjalanan bisnisnya dibahas dalam laporan 20 September 2026. Dengan demikian, laporan itu memuat rangkaian informasi mengenai latar awal Djoko, pekerjaannya sebelum membangun bisnis ritel, serta perkembangan usaha keluarga menjadi Grup Alfamart.
Sumber
Baca berikutnya
Terbaru di Tokoh

Bahlil Prioritaskan UMKM dalam Kebijakan Pertambangan di Jakarta
Bahlil Lahadalia menyatakan dukungan kepada perusahaan besar harus disertai royalti dan tidak mematikan UMKM. Pernyataan itu disampaikan dalam acara d…
Berita utama hari ini


