Geopolitik Dinilai Lebih Menekan Rupiah daripada Sentimen MSCI
Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai risiko geopolitik lebih berpengaruh terhadap rupiah daripada sentimen MSCI. Tekanan dapat datang melalui saham, obligasi, minyak, inflasi, dan dolar.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Jakarta — Pelemahan rupiah pada 7 November 2026 dinilai lebih dipengaruhi risiko geopolitik daripada sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI), menurut Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz.
Irman menyampaikan penilaian itu dalam media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh. Ia mengatakan memburuknya kondisi geopolitik dapat mendorong pemodal asing keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia. Arus dana tersebut kemudian bergerak ke aset yang dianggap lebih aman di negara maju, termasuk Amerika Serikat, sehingga dolar Amerika Serikat menguat.
Ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, juga disebut dapat menaikkan harga minyak mentah global. Dampaknya dapat meluas melalui kenaikan inflasi global dan kemungkinan bertahannya suku bunga tinggi lebih lama. Bagi Indonesia, kondisi itu menambah tekanan terhadap nilai tukar dan biaya pembiayaan negara.
CNBC Indonesia mencatat penjualan saham oleh pelaku pasar asing mencapai Rp95,98 triliun, sementara jual bersih investor asing mencapai Rp16,5 triliun. Namun, Irman menilai arus keluar dari pasar saham belum tentu langsung meninggalkan Indonesia karena dana dapat dialihkan ke sektor atau instrumen keuangan domestik berisiko lebih rendah.
Risiko geopolitik berdampak langsung pada rupiah
Menurut studi Irman, setiap arus keluar modal asing sebesar US$100 juta dari pasar saham hanya menyebabkan depresiasi Rp11-12 dari level sebelumnya. Ia menilai dampak keluarnya dana dari obligasi negara lebih besar karena dapat menaikkan imbal hasil dan meningkatkan rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara.
Sentimen MSCI disebut lebih langsung memengaruhi pasar saham. Investor masih menunggu pengumuman MSCI pada Juni 2027 mengenai status pasar saham Indonesia, apakah tetap berada di kategori pasar berkembang atau turun menjadi pasar mandiri. Sementara itu, risiko geopolitik memengaruhi saham dan obligasi sekaligus sehingga tekanannya terhadap nilai tukar dinilai lebih kuat.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
Rupiah Melemah ke Rp18.089 per Dolar AS di Jakarta
Rupiah melemah 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp18.089 per dolar AS pada Jumat, 6 November 2026. Pertumbuhan ekonomi kuartal III mencapai 5,47 persen…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga





