Kabar18.com

Jumat, 16 Oktober 2026

Greta Thunberg Soroti Karhutla dan Kabut Asap di Kalimantan

Greta Thunberg membagikan video tentang krisis karhutla dan kabut asap di Kalimantan. Pesannya menyoroti dampak terhadap hutan, satwa liar, warga, dan kesehatan.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Kabut tebal menyelimuti lereng hutan dengan pepohonan yang rimbun.
Ilustrasi: Kabut tebal menyelimuti lereng hutan dengan pepohonan yang rimbun. · Foto: eberhard grossgasteiger / Pexels

Palangkaraya — Aktivis lingkungan asal Swedia Greta Thunberg menyoroti kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap di Kalimantan, Indonesia, melalui unggahan Instagram pada 16 Oktober 2026.

Dalam unggahan itu, Greta membagikan video dari aktivis pembela hak masyarakat adat Emmanuela Shinta. Rekaman tersebut memperlihatkan suasana berwarna oranye dan seseorang yang mengenakan masker gas di tengah kabut asap. Pesan yang dibagikan menyebut krisis kebakaran dan kabut asap di Kalimantan belum berakhir.

Greta menyoroti dampak kebakaran terhadap hutan, satwa liar, mata pencaharian warga, dan kesehatan masyarakat. Pesan itu juga menyebut warga kehilangan hutan serta pohon karet, sedangkan petugas pemadam menghadapi risiko besar saat memadamkan api.

Dampak karhutla meluas ke kesehatan dan wilayah sekitar

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menimbulkan kabut asap yang berdampak lintas wilayah. Di Palangkaraya, kabut tebal menyelimuti kota dan langit berubah oranye selama puncak krisis. Kebakaran di Kalimantan Tengah berlangsung sekitar empat bulan dan memburuk sejak Juli 2026.

Unggahan yang dibagikan Greta juga mengajak dukungan terhadap Borneo's Fires and Haze Crisis Fundraising Campaign. Dana tersebut ditujukan untuk membantu petugas pemadam, membangun tempat perlindungan dari kabut asap, melindungi kelompok rentan, dan menyelamatkan hutan yang tersisa.

Hujan mulai mengguyur Palangkaraya pada 16 Oktober 2026 setelah kekeringan dan kabut asap berlangsung selama beberapa bulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan hujan itu berkaitan dengan operasi modifikasi cuaca, tetapi potensi titik api dan kabut asap masih perlu dipantau.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Lingkungan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.