Mendag Waspadai Kenaikan Harga Minyak terhadap Neraca Dagang
Harga Brent mencapai US$104,68 per barel pada 21 September 2026. Menteri Perdagangan Budi Santoso meminta ekspor terus meningkat agar defisit migas tidak menggerus surplus nonmigas.
Oleh Pandi Muktar
· 2 menit baca
Jakarta — Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah perlu mewaspadai kenaikan harga minyak dunia karena dapat menekan neraca perdagangan Indonesia. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta pada 22 September 2026.
Mengapa ini penting: Kenaikan harga minyak berpotensi menekan neraca perdagangan melalui defisit migas, sementara surplus Juli hanya US$120 juta.
Harga minyak mentah Brent mencapai US$104,68 per barel pada 21 September 2026, naik 81 sen atau 0,78 persen. Pada waktu yang sama, harga minyak mentah West Texas Intermediate berada di US$101,06 per barel, menurut laporan yang dikutip Detik dari Reuters.
Budi mengatakan pemerintah perlu menjaga pertumbuhan ekspor agar kenaikan kebutuhan impor minyak tidak mengurangi surplus perdagangan nonmigas. Ia menyampaikan hal itu ketika ditemui di kantornya pada 22 September 2026.
“Harapan kita, yang kita lakukan adalah bagaimana ekspor kita terus meningkat, karena jangan sampai defisit minyak ini nanti mempengaruhi surplusnya nonmigas,” kata Budi, seperti dikutip Detik.
Neraca perdagangan Juli surplus tipis
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan barang Indonesia pada Juli 2026 surplus US$120 juta. Angka itu membalikkan defisit pada Mei dan Juni 2026.
Surplus Juli terutama berasal dari neraca perdagangan nonmigas yang mencapai US$3,10 miliar. Komoditas penyumbang utamanya meliputi lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja, menurut laporan media yang mengutip paparan BPS.
Di sisi lain, neraca perdagangan migas pada Juli mengalami defisit US$2,98 miliar. Komoditas yang menyumbang defisit terutama hasil minyak dan minyak mentah.
Data BPS yang dikutip sejumlah media juga menunjukkan ekspor Juli mencapai US$26,22 miliar, sedikit lebih tinggi daripada impor sebesar US$26,09 miliar. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Juli 2026 masih surplus US$3,70 miliar.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
Analis Rekomendasikan Saham Pilihan untuk Awal Pekan Ini
Sejumlah analis pasar modal merekomendasikan saham pilihan untuk awal pekan ini di tengah proyeksi IHSG yang masih konsolidatif. Daftar emiten mencaku…
Terbaru di Ekonomi & Keuangan

Baca juga





