Titik Panas Naik ke 1.323 dalam Sehari, Udara Palangka Raya Berbahaya
Kalimantan Tengah menyumbang 1.035 titik, naik dari 166 sehari sebelumnya. PM2,5 Palangka Raya 621,6 mikrogram per meter kubik pada Sabtu malam dan 573,1 pada Minggu pagi; jadwal tiba bantuan udara Malaysia belum diumumkan.
Oleh Pandi Muktar
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Jakarta — Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia naik menjadi 1.323 pada Sabtu, 19 September 2026, dari 546 sehari sebelumnya. Sebanyak 1.035 di antaranya berada di Kalimantan Tengah, tempat udara Palangka Raya masuk kategori berbahaya.
Angka itu termuat dalam siaran pers Kementerian Kehutanan, Minggu, 20 September, berdasarkan data satelit di sistem SiPongi. Titik panas (hotspot) menandai anomali suhu permukaan yang tertangkap satelit dan belum tentu sama dengan satu kebakaran. Satu kebakaran bisa terbaca sebagai beberapa titik, sehingga petugas tetap memeriksanya di lapangan.
Angka Sabtu lebih tinggi daripada 1.037 titik yang tercatat pada 15 September. Sesudah tanggal itu angka nasional sempat turun ke 475 pada 17 September, menurut rilis harian kementerian yang sama.
Kalimantan Tengah: 61 titik menjadi 1.035 dalam dua hari
Kalimantan Tengah mencatat 61 titik panas pada 17 September, 166 sehari kemudian, lalu 1.035 pada 19 September. Angka terakhir hampir 17 kali angka dua hari sebelumnya. Angka itu juga melampaui 689 titik pada 14 September, yang tertinggi di provinsi itu dalam rilis 16–19 September.
Provinsi itu menyumbang sekitar 78 persen angka nasional. Tambahannya 869 titik, lebih besar daripada kenaikan nasional 777 titik.
Dua hal belum dijelaskan kementerian. Angka 19 September dihitung sampai pukul 23.59 WIB, sedangkan empat rilis sebelumnya menutup data pukul 21.00 atau 21.05 WIB. Jumlah enam provinsi prioritas pada 19 September juga tepat sama dengan angka nasional, padahal sehari sebelumnya enam provinsi hanya 330 dari 546 titik. Karena itu, penurunan di luar Kalimantan Tengah belum bisa dipastikan.
Lima provinsi prioritas lain pada 19 September, dibanding sehari sebelumnya:
- Sumatera Selatan: 112 titik, dari 100
- Kalimantan Barat: 107, dari 39
- Kalimantan Selatan: 55, dari 12
- Jambi: 14, dari 9
- Riau: nihil, dari 4
PM2,5 Palangka Raya: 621,6 Sabtu malam, 573,1 Minggu pagi
Konsentrasi PM2,5 di Palangka Raya mencapai 621,6 mikrogram per meter kubik pada Sabtu pukul 19.00 WIB. Angka itu disampaikan prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Renianata, seperti dikutip RRI Palangka Raya.
PM2,5 adalah partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. BMKG menggolongkan angka di atas 250,5 mikrogram per meter kubik sebagai berbahaya. Angka Sabtu malam sekitar 2,5 kali batas itu.
Renianata menyebut dua penyebab: kebakaran di wilayah kota dan angin tenggara yang membawa “kiriman asap dari daerah sekitar, salah satunya dari Pulang Pisau”.
Pada Minggu pukul 02.00 WIB angka di Palangka Raya sempat turun ke 134,6, lalu naik setiap jam. Laman pemantauan PM2,5 BMKG menunjukkan 573,1 pada pukul 08.00 WIB, tertinggi di antara 27 lokasi yang tampil. Tiga lokasi lain juga berkategori berbahaya pada jam itu: Pangkalan Bun 309,4, Kubu Raya 305,2, dan Sintang 265,2.
Jarak pandang di Palangka Raya turun hingga sekitar 350 meter pada Sabtu pagi dan berdampak pada penerbangan, menurut rilis Kementerian Kehutanan. Pendaratan dan lepas landas yang aman memerlukan jarak pandang 1.500–2.000 meter. Batas itu disebut pengelola Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, pada hari yang sama, seperti dikutip detikKalimantan. Ia menghitung 34 pergerakan pesawat terdampak asap pada 17–18 September.
Kementerian Kehutanan mengimbau warga di wilayah berasap mengurangi kegiatan di luar ruang dan memakai masker.
Prakiraan BMKG untuk 18–24 September menyebut El Nino kategori sangat kuat dan kemarau membuat Kalimantan bagian selatan lebih dari 60 hari tanpa hujan. Untuk 21–24 September, BMKG memasukkan Kalimantan Tengah ke daftar wilayah yang berpotensi mendapat hujan berintensitas sedang.
Armada udara jadi 55 unit, bantuan Malaysia belum berjadwal
Pemerintah mengerahkan 55 pesawat dan helikopter untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan, naik dari 53 unit dalam rilis 16–18 September. Tiga helikopter CH-47 Chinook dari Jepang lebih dulu disiapkan di Kalimantan Barat.
Tanggal tiba bantuan udara Malaysia belum diumumkan. Siaran pers Sekretariat Presiden hanya menyebut bantuan dikirim dalam waktu dekat, tanpa provinsi penempatan. Presiden Prabowo Subianto menerima tawaran itu saat bertemu Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi di Hambalang, Jumat, 18 September. Isinya satu pesawat, tiga helikopter, dan 52 personel pemadam. Pesawatnya Bombardier CL-415MP, menurut unggahan Zahid yang dikutip Kompas.com dari AFP.
Sumber
- Kementerian Kehutanan — Siaran pers SP.540: Hotspot Nasional Meningkat, Riau Nihil, Pengendalian Kalteng Diperkuat (20 September 2026)
- Kementerian Kehutanan — Siaran pers SP539: Hotspot Sumsel Turun, Pengendalian Kalteng Diperkuat (19 September 2026)
- Kementerian Kehutanan — Siaran pers SP.536: Hotspot Nasional Turun, Riau Nihil, Pengendalian Sumsel Diperkuat (18 September 2026)
- Kementerian Kehutanan — Siaran pers SP.532: Hotspot Nasional Turun 558 Titik (17 September 2026)
- Kementerian Kehutanan — Siaran pers SP.430: Hotspot Nasional Turun 400 Titik (16 September 2026)
- BMKG — Konsentrasi Partikulat PM2,5, pemantauan per jam dan kategori
- BMKG — Konsentrasi PM2,5 Palangka Raya, data per jam 20 September 2026
- RRI Palangka Raya — Kualitas Udara di Kota Palangka Raya Kembali Masuk Kategori Berbahaya (19 September 2026)
- BMKG — Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 18–24 September 2026
- Sekretariat Presiden — Presiden Prabowo dan Wakil PM Malaysia Perkuat Kerja Sama Penanganan Karhutla (18 September 2026)
- detikKalimantan — Sudah Dua Hari 34 Penerbangan Bandara Tjilik Riwut Terdampak Kabut Asap (19 September 2026)
- Kompas.com — Indonesia Izinkan Malaysia Bantu Padamkan Karhutla, Ada 3 Heli dan 1 Pesawat (20 September 2026)
Berita berikutnya

Kekeringan Jateng Berdampak pada 33.240 KK, BMKG: Sebagian Besar Jawa 60 Hari Lebih Tanpa Hujan
Kekeringan sejak awal Juli berdampak pada delapan kabupaten di Jawa Tengah, terberat di Pemalang. BMKG memprakirakan curah hujan tetap rendah hingga m…
Baca juga





