Suku Bunga AS Menekan Rupiah dan Pasar Keuangan Jakarta
IHSG dan rupiah melemah pada perdagangan 24 September 2026, sedangkan imbal hasil SBN tenor 10 tahun stagnan setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Jakarta — Pasar keuangan Indonesia tertekan pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah melemah, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak stagnan.
Menurut CNBC Indonesia, IHSG ditutup turun 76,31 poin atau 1,20 persen ke level 6.298,61. Rupiah melemah 0,51 persen atau 90 poin menjadi Rp17.885 per dolar Amerika Serikat, berdasarkan data Refinitiv. Sementara itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun relatif stabil.
Tekanan pasar berlangsung setelah Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00 persen. Kebijakan tersebut meningkatkan perhatian investor terhadap arah dolar Amerika Serikat, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat, arus modal, dan nilai tukar rupiah.
Mengapa tekanan suku bunga AS penting bagi Indonesia
Imbal hasil Treasury Amerika Serikat yang tinggi dapat membuat aset berbasis dolar lebih menarik bagi investor. Kondisi itu berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, serta memengaruhi arus dana asing dan valuasi saham domestik.
CNBC Indonesia melaporkan imbal hasil Treasury Amerika Serikat tenor 10 tahun sempat naik hingga 5,11 persen, tingkat tertinggi sejak 2007. Pada perdagangan 24 September 2026, imbal hasil Treasury tenor 30 tahun menembus 5,48 persen, sedangkan tenor 10 tahun mencapai 5,20 persen.
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 September 2026. Suku bunga Deposit Facility dipertahankan sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Perdagangan terakhir pekan itu berlangsung pada Jumat, 25 September 2026. CNBC Indonesia menyebut pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bangkit, sementara arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan imbal hasil Treasury tetap menjadi perhatian investor.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi & Keuangan
Rupiah Tertekan, Diproyeksikan Mendekati Rp18.000 di Jakarta
Doo Financial Futures memproyeksikan rupiah bergerak pada rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS pada Jumat, 25 September 2026. Rupiah dibuka R…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga





