Kabar18.com

Minggu, 20 September 2026

Analisis Kesehatan: Menikmati Musik Keras dengan Menjaga Pendengaran

Risiko gangguan pendengaran dipengaruhi keras suara dan lamanya paparan. Jarak dari pengeras suara serta jeda di tempat tenang perlu diperhatikan.

Redaksi Kabar18

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi pelindung telinga silikon dalam foto arsip. Foto bukan dokumentasi acara sound horeg dan bukan rekomendasi merek tertentu.
Ilustrasi pelindung telinga silikon dalam foto arsip. Foto bukan dokumentasi acara sound horeg dan bukan rekomendasi merek tertentu. · Foto: Kick the beat / Wikimedia Commons / domain publik

ANALISIS KESEHATANMusik yang diputar keras membutuhkan perhatian terhadap kesehatan pendengaran. Menilai risikonya tidak cukup hanya dari apakah seseorang merasa sanggup bertahan di dekat pengeras suara.

Organisasi Kesehatan Dunia, melalui panduan mendengarkan dengan aman bertanggal 6 Maret 2026, menjelaskan bahwa risiko dipengaruhi tingkat suara, durasi, serta frekuensi paparan. Paparan keras berulang dapat merusak pendengaran secara permanen; suara yang sangat keras juga dapat menimbulkan kerusakan dalam satu kejadian.

Di Indonesia, ANTARA pada 18 September 2026 memuat penjelasan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorok mengenai risiko suara keras dari sound horeg. Peringatan itu memberi konteks lokal bagi pembahasan keselamatan pendengaran, bukan dasar untuk menyimpulkan setiap penonton sudah mengalami gangguan.

WHO menyarankan langkah seperti menjauh dari pengeras suara, menggunakan pelindung telinga, dan mengambil jeda di tempat yang lebih tenang. Perlindungan perlu dipikirkan selama paparan berlangsung, termasuk saat menikmati konser atau kegiatan dengan sistem suara kuat.

Dalam pandangan redaksi, informasi mengenai area tenang dan pilihan pelindung telinga layak tersedia bagi pengunjung acara. Langkah ini merupakan usulan pelayanan, bukan klaim bahwa semua penyelenggara telah melakukannya.

Telinga berdenging yang menetap atau kesulitan mengikuti percakapan perlu dinilai tenaga kesehatan. Informasi umum ini tidak menentukan diagnosis ataupun pengobatan untuk pembaca tertentu.

Sumber: WHO Safe Listening, 6 Maret 2026; ANTARA, 18 September 2026.

Foto: Kick the beat / Wikimedia Commons, domain publik.

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.