Kabar18.com

Sabtu, 10 Oktober 2026

IHSG Menguat ke 6.093,75 di Jakarta, Tren Belum Berbalik

IHSG menguat 1,04 persen ke 6.093,75 pada 9 Oktober 2026 setelah terkoreksi 1,88 persen. Analis menyebut kenaikan itu belum memastikan pembalikan tren.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Foto hitam putih patung dua banteng yang sedang beradu tanduk di luar ruangan bersalju.
Ilustrasi: Foto hitam putih patung dua banteng yang sedang beradu tanduk di luar ruangan bersalju. · Foto: Alexander Popadin / Pexels

Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.093,75 pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, setelah sehari sebelumnya terkoreksi 1,88 persen.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI menunjukkan IHSG naik 62,47 poin pada akhir perdagangan. Indeks sempat bergerak pada rentang 5.995,82 hingga 6.100,57 sebelum berakhir di 6.093,75.

Kenaikan tersebut dinilai analis sebagai penguatan teknikal setelah tekanan jual pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026. Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji mengatakan pelemahan sebelumnya membuka peluang aksi beli saat harga melemah atau buy on weakness pada saham yang dinilai telah berada di level menarik.

Liputan6.com melaporkan penguatan IHSG ditopang sektor industri, barang baku, dan infrastruktur. Saham BBCA, AMMN, TLKM, BBRI, dan MORA disebut menjadi sejumlah penopang indeks.

Penguatan IHSG belum memastikan pembalikan tren

Menurut Nafan, kenaikan IHSG belum serta-merta mengonfirmasi pembalikan tren menuju bullish. Arah berikutnya masih perlu dilihat dari keberlanjutan arus beli, peningkatan volume transaksi, dan kemampuan indeks bertahan di atas level dukungan terdekat.

Perdagangan Jumat mencatat 381 saham menguat, 238 saham melemah, dan 172 saham stagnan. Kontan.co.id juga melaporkan sepuluh indeks sektoral menguat, sementara VIVA mencatat saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bumi Resources Tbk berada di zona hijau.

Risiko pasar tetap menjadi perhatian investor. Liputan6.com menyebut perkembangan daya beli masyarakat dan data penjualan ritel sebagai faktor domestik yang dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi serta kinerja emiten. Tekanan pasar global, termasuk kenaikan harga minyak mentah, juga disebut dapat menjaga volatilitas perdagangan.

Analis mengingatkan investor untuk tetap selektif dengan memperhatikan fundamental emiten, valuasi, dan manajemen risiko. Pengujian terhadap kesinambungan arus beli dan volume transaksi menjadi penentu apakah penguatan ini berlanjut.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.