Kamila Andini, Sutradara di Balik Empat Musim Pertiwi yang Mewakili Indonesia ke Oscar 2027
Komite Seleksi Oscar Indonesia memilih Empat Musim Pertiwi sebagai wakil ke Academy Awards ke-99. Inilah jejak Kamila Andini, sutradara kelahiran Jakarta 1986 yang kali ini tidak membuat versi khusus festival.
Oleh Mukmin John
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Jakarta — Komite Seleksi Oscar Indonesia memilih Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) garapan Kamila Andini untuk maju di kategori Best International Feature Film Academy Awards ke-99 mewakili Indonesia. Forka Films mengumumkannya Rabu, 16 September 2026, tiga hari setelah film itu tayang perdana di Toronto, Kanada.
Keputusan diambil dalam rapat pleno komite pada Senin, 14 September. Sebelumnya, komite menilai film-film unggulan lewat pemutaran khusus di Bioskop XXI Senayan City, Jakarta, tulis Media Indonesia. Persatuan Perusahaan Film Indonesia menjadi pelaksana resmi seleksi tahun ini, dengan Deddy Mizwar sebagai ketua pelaksana.
Di Toronto International Film Festival (TIFF) ke-51, film itu diputar pertama kali pada Minggu, 13 September, di Scotiabank Theatre dalam program Centrepiece. Antara melaporkan, media hiburan Amerika Serikat Variety memasukkannya ke daftar 20 judul internasional pilihan di festival tersebut.
Toronto bukan panggung baru bagi Kamila. Pada 2021 ia meraih Platform Prize di festival yang sama lewat Yuni, film yang kemudian mewakili Indonesia untuk Oscars 2022. CNN Indonesia mencatat Empat Musim Pertiwi sebagai wakil ke-27 pilihan komite seleksi.
Mengapa ini penting
Pilihan komite menempatkan sebuah film berlatar desa di kaki Gunung Bromo, dengan tokoh utama perempuan yang pulang dari penjara, sebagai wajah Indonesia di Academy Awards.
Film ini juga lahir dari koproduksi lintas negara. Daftar negaranya berbeda antarsumber: Antara menyebut Belanda, Prancis, Norwegia, Polandia, Singapura, dan Arab Saudi; CNN Indonesia tidak mencantumkan Arab Saudi, tetapi memasukkan Jerman dan Thailand.
Dari suku Bajau ke kaki Bromo
Kamila lahir di Jakarta pada 6 Mei 1986. Ia belajar sosiologi dan seni media di Deakin University, Melbourne. Film panjang pertamanya, Laut Bercermin (The Mirror Never Lies, 2011), merekam kehidupan suku Bajau dan meraih Earth Grand Prix di Tokyo International Film Festival serta FIPRESCI Award di Hong Kong International Film Festival.
Sekala Niskala (The Seen and Unseen) menyusul dengan Grand Prix Generation Kplus dari Berlinale. Film itu juga memenangi kategori Best Youth Feature pada Asia Pacific Screen Awards. Bersama Ifa Isfansyah, produser Empat Musim Pertiwi sekaligus mitra kreatifnya di Forka Films, ia menyutradarai serial Gadis Kretek, peraih Best Mini Series pada Seoul International Drama Awards 2024.
Pada Juni 2025, namanya masuk dalam 534 undangan baru keanggotaan Academy of Motion Picture Arts and Sciences, lembaga penyelenggara Oscar. Antara mencatat karyanya konsisten menyentuh isu sosial, budaya, kesetaraan perempuan, dan lingkungan.
Film terbarunya mengikuti Pertiwi, diperankan Putri Marino, yang kembali ke desanya setelah 20 tahun dipenjara karena membela diri dari upaya pemerkosaan. Arya Saloka, Christine Hakim, dan Hana Malasan turut bermain.
Forka Films menggambarkan film ini sebagai paduan drama psikologis, fiksi ilmiah, realisme magis, dan misteri. Menurut Ifa, Bromo sudah dipilih sebagai latar sejak proses kreatif dimulai pada 2017.
Kata para pihak
Dalam pernyataan yang dimuat CNN Indonesia dan Media Indonesia, Kamila menyebut filmnya berakar pada Indonesia, tetapi pertanyaan yang diajukannya tentang trauma, ingatan, kekerasan, dan pemulihan berlaku di mana saja. Ia menggambarkan film ini sebagai kisah kepulangan: bukan hanya ke sebuah tempat, melainkan juga ke bagian diri yang terpaksa ditinggalkan.
Kepada Variety, dalam wawancara yang terbit 12 September, ia lebih terus terang soal posisi film Indonesia. Menurut Kamila, Indonesia bukan nama yang langsung terlintas ketika orang membicarakan sinema Asia. Di Asia Tenggara pun, kata dia, Thailand dan Filipina lebih dikenal.
Variety menulis, keadaan itu membuat Kamila dan banyak sineas Indonesia aktif mengikuti pasar proyek internasional, bukan hanya untuk mencari pendanaan, melainkan juga untuk memperkenalkan cerita Indonesia.
Saat mengirim Yuni ke Toronto pada 2021, ia memangkas beberapa karakter dari versi festival setelah mitra internasionalnya menilai tokohnya terlalu banyak. Kali ini tidak ada versi khusus festival. Ia mempertahankan rombongan karakter yang besar agar penonton luar negeri merasakan semangat komunal masyarakat Indonesia.
Apa selanjutnya
Empat Musim Pertiwi lebih dulu diputar terbatas di Indonesia pada 22–28 September 2026. Rilis di bioskop Indonesia dijadwalkan 8 Oktober 2026, berbarengan dengan penayangannya di Busan International Film Festival dalam program A Window on Asian Cinema. Menurut Media Indonesia, film ini juga lolos seleksi Tokyo International Film Festival akhir tahun ini.
Sumber
- CNN Indonesia — Empat Musim Pertiwi wakil Indonesia ke Oscar 2027
- Media Indonesia — Empat Musim Pertiwi terpilih ke Oscars 2027
- Antara — Empat Musim Pertiwi masuk 20 judul pilihan TIFF 2026
- Antara — Film Kamila Andini tayang di TIFF 2026
- Antara — Kamila Andini diundang jadi pemilih Oscar
- Variety — Wawancara Kamila Andini di Toronto
- Bisnis.com — Film sorotan TIFF 2026
- Medcom — Empat Musim Pertiwi resmi ke Oscar 2027
Berita berikutnya

Basnang Said, Santri As'adiyah dari Soppeng yang Menjadi Dirjen Pesantren Pertama
Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik Basnang Said sebagai Direktur Jenderal Pesantren pertama pada 15 September 2026. Alumni As'adiyah Sengkang itu…

