Kabar18.com

Sabtu, 19 September 2026

Basnang Said, Santri As'adiyah dari Soppeng yang Menjadi Dirjen Pesantren Pertama

Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik Basnang Said sebagai Direktur Jenderal Pesantren pertama pada 15 September 2026. Alumni As'adiyah Sengkang itu diberi waktu 100 hari untuk menunjukkan perubahan.

Oleh

Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: gedung Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta, difoto pada Februari 2015. (Foto: CEphoto, Uwe Aranas / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0)
Ilustrasi: gedung Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta, difoto pada Februari 2015. (Foto: CEphoto, Uwe Aranas / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0)

Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik Basnang Said sebagai Direktur Jenderal Pesantren di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta, Selasa, 15 September 2026. Pria kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, itu menjadi orang pertama yang memimpin direktorat jenderal yang baru dipisahkan dari Ditjen Pendidikan Islam.

Pengangkatannya tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 114/TPA Tahun 2026 yang ditetapkan di Jakarta pada 10 September 2026. Ditjen Pesantren sendiri lahir dari Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026, terbit 27 Maret 2026, lalu dijabarkan lewat Peraturan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2026 tertanggal 4 Agustus 2026. Sebelum aturan itu berlaku, urusan pesantren ditangani sebuah direktorat setingkat eselon II.

Dalam upacara yang sama, Nasaruddin melantik empat pemimpin perguruan tinggi keagamaan negeri: Akh. Muzakki sebagai Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya periode 2026–2030, Ahmad Faisal sebagai Rektor UIN Sultan Amai Gorontalo, Husain Insawan sebagai Rektor UIN Kendari, dan Li. Edi Ramawijaya Putra sebagai Rektor Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang.

Dari Lompulle ke Jakarta

Basnang lahir pada 2 Desember 1976 di Desa Lompulle, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng. Laman Pondok Pesantren As'adiyah mencatat ia bersekolah di MI As'adiyah Lompulle, kemudian menamatkan MTs I Putera As'adiyah Sengkang pada 1990 dan MA Putera As'adiyah Sengkang pada 1993.

Seluruh pendidikan tingginya ia tempuh di UIN Alauddin Makassar: sarjana dari Fakultas Tarbiyah pada 1998 dan magister pada 2001. Tahun kelulusan doktornya dicatat berbeda. detikHikmah menulis 2011, Medcom menyebut 2006, sedangkan laman As'adiyah mencatat 2006 sebagai tahun ia mulai menempuh program doktor.

Menurut detikHikmah, kariernya bermula sebagai pegawai negeri Departemen Agama Kabupaten Polewali Mandar. Ia juga mengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Al-Asy'ariyah Polewali, Sulawesi Barat, dan menjadi dekan fakultas itu pada 2006–2010.

Kursi Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, jabatan eselon II di Ditjen Pendidikan Islam, ia raih lewat seleksi terbuka. Laman As'adiyah pada Agustus 2024 mengabarkan ia bersaing dengan lima pejabat Kemenag lain yang lolos berkas. Di luar birokrasi, Basnang menjabat Ketua Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia.

Mengapa ini penting

Dengan satuan kerja eselon I tersendiri, pesantren kini punya pintu sendiri di Kementerian Agama untuk urusan program dan anggaran. Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin, dalam keterangan pers 7 Agustus 2026, menyebut dukungan pemerintah yang selama ini bertumpu pada pendidikan akan diperluas ke fungsi dakwah dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Bagi santri, pengasuh, dan orang tua, daftar pekerjaannya sudah disebut. Basnang, dalam keterangan yang diterima MUI Digital, menyatakan digitalisasi, sanitasi, dan penanganan kekerasan seksual di pesantren termasuk program yang harus dipercepat. Ia mengingatkan serapan anggaran mesti diikuti kegiatan dan capaian yang bisa diukur.

Kata para pihak

"Dalam tempo 100 hari pondok pesantren ini ada kejutan-kejutan positif yang Anda bisa lakukan, dan orang bisa merasakan, 'Oh ini bedanya dulu dan sekarang'," kata Nasaruddin Umar di Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Nasaruddin, dikutip Medcom dari laman Kemenag, menyebut terbentuknya Ditjen Pesantren sebagai "sejarah buat Kementerian Agama". Republika melaporkan ia meminta Basnang segera membangun tata kelola lembaga baru itu dan menjalin silaturahmi dengan para pemangku kepentingan pesantren, termasuk di daerah, karena pengelolaan pesantren tidak bisa dikerjakan pemerintah pusat sendirian.

Basnang memasang tenggat untuk dirinya. "Sebelum tahun 2027, capaian itu harus bisa kita tunjukkan kepada Menteri Agama," ujarnya, seperti dimuat MUI Digital pada Rabu, 16 September 2026. Ia menyebut penguatan lembaga bertumpu pada tiga fungsi pesantren: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan.

Apa selanjutnya

  • 22 September 2026: Kemenag menjadwalkan peluncuran tema dan logo Hari Santri 2026, sebulan sebelum puncak peringatan pada 22 Oktober 2026 yang menandai satu dekade Hari Santri.
  • Rapat koordinasi dengan kementerian dan lembaga yang punya anggaran untuk pesantren. Basnang mencontohkan rencana menyambungkan koperasi pesantren dengan Koperasi Merah Putih.
  • Pengecekan peraturan daerah tentang pesantren. Menurut Basnang, sekitar 20 provinsi dan hampir 70 kabupaten/kota sudah memilikinya; yang hendak diperiksa adalah ada atau tidaknya anggaran di balik aturan itu.

Sumber

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.