Dua Ledakan di Riyadh Usai Peringatan Serangan Udara Pertama sejak Perang Yaman Pecah Lagi
Pertahanan sipil Saudi mengirim lalu mencabut peringatan serangan udara untuk Riyadh, Sabtu dini hari, yang pertama sejak perang Yaman pecah lagi Juli lalu. Asal ancaman belum dijelaskan; imbauan Kemlu bagi WNI bertanggal 16 September.
Oleh Kevin Mikael Januar
Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Riyadh — Dua ledakan terdengar di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, Sabtu dini hari, 19 September 2026, setelah pertahanan sipil mengirim peringatan serangan udara pertama untuk kota itu sejak perang Yaman kembali pecah pada Juli. Peringatan dicabut sekitar setengah jam kemudian; asal ancaman belum dijelaskan.
Kantor berita AFP, yang dikutip Kompas.com dan CNN Indonesia, melaporkan pesan darurat diterima warga Riyadh menjelang pukul 03.00 waktu setempat, atau sekitar 07.00 WIB. Isinya menyebut wilayah itu berada di bawah ancaman dari udara dan meminta penduduk bertahan di dalam ruangan. Jurnalis AFP di kota itu kemudian mendengar dua dentuman.
BBC menulis wartawan Reuters juga mendengar ledakan. Menurut BBC, Pertahanan Sipil Saudi mengirim peringatan untuk Riyadh dan beberapa wilayah lain sejak Jumat malam, lalu menyatakan bahaya berlalu dan meminta warga tidak berkerumun.
Pemerintah Arab Saudi, menurut AFP, belum berkomentar tentang ancaman itu dan belum menyebut asalnya. Laporan yang dibuka Kabar18 tidak memuat keterangan resmi tentang korban atau kerusakan di Riyadh.
Pertama sejak perang Yaman pecah lagi
Baru kali ini Riyadh terdampak langsung sejak perang di Yaman kembali menyala pada Juli 2026. Gencatan senjata yang bertahan sejak 2022 runtuh bulan itu, dan kelompok Houthi kembali bertempur melawan pasukan pemerintah Yaman yang disokong Saudi. Bulan ini Houthi merebut pesisir Laut Merah Yaman dan menguasai Selat Bab al-Mandab, jalur yang dipakai Saudi untuk mengekspor minyak.
Pada Rabu, 16 September, Riyadh menuduh Houthi menyasar Mekkah dan mengecamnya sebagai serangan teroris terhadap kota suci umat Islam. Houthi membantah keras. Kelompok itu balik mengklaim Saudi melancarkan 26 serangan ke wilayah mereka dalam 24 jam hingga Jumat, 18 September, dan 300 serangan dalam sepekan. Angka itu klaim sepihak; awal pekan ini juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, seperti dikutip BBC, menyebut lebih dari 450 serangan udara dalam sepekan.
Mengapa ini penting
Bagi Indonesia, Arab Saudi adalah tujuan jemaah umrah dan tempat bermukim warga negara Indonesia (WNI). Sejak Mekkah, Jeddah, dan Taif mendapat peringatan bahaya pada 15 September, keduanya menerima imbauan dari KBRI Riyadh, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj). Kini giliran ibu kota.
Imbauan resmi pemerintah Indonesia yang tersedia bertanggal 16 September, tiga hari sebelum ledakan di Riyadh. Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri Heni Hamidah hari itu meminta WNI di Saudi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah setempat. "Hingga saat ini, tidak terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak," kata Heni saat itu, seperti dikutip CNN Indonesia. Sampai artikel ini ditulis, Kabar18 belum menemukan imbauan baru bertanggal 19 September.
Pada 15 September, KBRI Riyadh lewat Instagram membagikan panduan bila WNI menerima pesan peringatan darurat: tetap tenang, masuk ke bangunan dan menjauhi jendela, menghindari area terbuka, balkon, atap, serta kerumunan, tidak memotret di lokasi berbahaya, dan menepi bila sedang berkendara.
Untuk jemaah umrah, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj Puji Raharjo pada 16 September meminta jemaah tetap tenang dan memastikan jadwal kepada penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) sebelum berangkat ke bandara. "Jangan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi," kata Puji dalam keterangannya, seperti dikutip Kompas.com. Jemaah yang sudah berada di Saudi diminta berkoordinasi dengan PPIU dan KJRI, bukan melangkah sendiri.
Angka kunci
- Sekitar 30 menit: lama peringatan serangan udara berlaku di Riyadh sebelum dicabut (AFP).
- Lebih dari 112.000 orang mengungsi akibat pertempuran baru di Yaman dan hampir 3.000 menyeberang ke Djibouti (PBB, 18 September).
- 13 warga sipil terluka akibat serangan rudal dan drone di Khamis Mushait, Abha, dan Taif, menurut laporan koalisi pimpinan Saudi pada 14 September (CNN Indonesia).
Kontak darurat bagi WNI
- Hotline KBRI Riyadh: +966 569173990.
- Hotline KJRI Jeddah: +966 50 360 9667.
- Layanan darurat Saudi: 911 untuk Riyadh, Mekkah, Madinah, dan provinsi timur; 998 untuk wilayah lain.
- Pengaduan Kemenhaj seputar penyelenggaraan haji dan umrah: 0811-888-5888.
Apa selanjutnya
Riyadh belum menjelaskan sumber ancaman Sabtu dini hari. Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri pada 16 September, perwakilan RI di Arab Saudi terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan otoritas setempat. Kemenhaj meminta PPIU segera mengabarkan setiap perubahan jadwal penerbangan kepada jemaah.
Sumber
- Kompas.com — Riyadh diguncang dua ledakan (19/9)
- CNN Indonesia — Riyadh diguncang ledakan (19/9)
- BBC News — First air raid alerts for Riyadh (19/9)
- AFP via New Indian Express — Saudi capital issues first air raid alert (19/9)
- CNN Indonesia — Houthi klaim 26 serangan Saudi dalam 24 jam (19/9)
- CNN Indonesia — Kemlu imbau WNI di Saudi waspada (16/9)
- Kompas.com — Kemenhaj minta jemaah umrah tetap tenang (16/9)
- CNN Indonesia — KBRI imbau WNI ikuti instruksi resmi (15/9)
Berita berikutnya

Trump Teken UU Sanksi Rusia, Tarif hingga 100 Persen Bidik Lima Pembeli Utama Energi Rusia
Beleid yang dinamai dari mendiang Senator Lindsey Graham itu lolos di DPR AS 262-159. Indonesia, yang sedang mengimpor minyak mentah Rusia lewat Lemig…
Baca juga





